Senin, 29 Mei 2017

Untuk Seorang Yang Sedang Memonopoli Pikiran Ku

Tangan ini terbuka akan semua kemungkinan
Tapi tidak akan sebuah kejutan
Saat dirasa aku tidak membutuhkan apa-apa
Saat itulah hidup seperti berkata,

"Perempuan, kamu akan merasakan kupu-kupu sekali lagi."

Itu beberapa saat setelah kamu datang
Setelah kamu akhirnya dengan lepas berdendang
Setelah kamu akhirnya menerima ini semua nyata,
Kita hadir untuk bersama

Inginnya kehadiran ku bermakna buat  mu
Inginnya kehadiran ku memberi semangat baru buat mu
Inginnya kehadiran ku menjadi senyum di wajah mu
Inginnya kehadiran ku membuat keyakinan buat mu

Bahwa kamu berharga

Karena kamu adalah gelap yang datang untuk membuat terang lebih berarti




29 Mei 2017
Di kamar ku yang nyaman, saat mentok akan book report. 😀



Senin, 10 April 2017

Puisi Senja



Di kala senja aku menguntai rasa
Apabila ini benar, aku tetap tidak akan percaya
Rasa kehilangan tidak akan pernah mendatangkan cinta
Karena apa yang hilang tak akan pernah tahu apa rasanya memiliki rasa
Kamu ada dalam hening mencandu
Dalam hati aku tahu ini rancu
Andai nasib cuma seperti melempar dadu
Akan kujalani nuansa yang baru

Minggu, 09 April 2017

Paleo. (Part 5)

"Kak Gina..Kak Gina..." Karla dengan suara cempreng nya memanggil aku yang baru masuk lobi kantor Kak Nila. Dia berlari kecil karena aku sudah terburu-buru ke atas. Lift sedang terbuka. Kak Nila sudah berkali-kali menelepon sejak satu jam yang lalu. Aku harus cepat sampai di atas.
"Kaaaakkkkk...bentar!"
Akhirnya karena dia menarik salah satu bagian tangan kemeja ku, aku menahan pintu lift.
"Apa??"
Setengah kesal aku meladeni Karla, dia cuma cengar-cengir gak jelas.
"Susah banget ketemu Kakak belakangan ini, minta tandatangan. Buat buku Kakak yang mau aku hadiahin ke sepupu aku."
Aku paling tidak bisa menolak permintaan orang yang sudah repot-repot menyisihkan uang nya untuk membeli karya ku.
Walau aku tahu penumpang di dalam lift akan kesal pada ku, akhirnya aku tandatangani juga buku itu, ditambah aku menuliskan nama sepupu Karla itu.
"Udah ya, aku ditunggu Kak Nila di atas, kamu tahu kan Kak Nila gimana.."
"Eh, Kak..."
Heh? Apa lagi?
"Kenapa lagi? Cepetan ini ga enak sama yang di lift."
"Hehe..aku lupa mau ngomong apa, Kak."
Mendengus agak kesal aku pun masuk ke lift sambil mencoba membuat ekspresi minta maaf ke semua penumpang lift yang terlihat sudah tidak sabaran.



Benar saja, sesampainya di atas aku mendapati Kak Nila bermuka masam karena aku datang terlambat 15 menit sementara pihak Production House yang berminat memfilmkan novel ku sudah duduk manis. 2 orang yang berumur tidak lebih dari 35 tahun itu tidak masalah karena aku menjelaskan dengan jujur apa yang terjadi di bawah. 5 menit pertama aku bukannya menarik perhatian 2 orang itu, aku malah berusaha membuat mood Kak Nila bagus lagi.

Syukurlah meeting awal yang berlangsung 90 menit itu berlangsung lancar dan akan dilanjutkan satu minggu  lagi, di tempat mereka. Aku berjanji tidak akan terlambat kepada mereka sebelum Kak Nila mencubit lengan ku. Makan siang di salah satu restoran favorit kami di gedung ini adalah sogokan ampuh supaya Kak Nila tidak marah lagi kepada ku.

"Kak Ginaaaaaa..."
Teriakan itu lagi. TKP nya tetap di lobi, tapi kali ini aku sedang menunggu jemputan ku datang. Apalagi mau nya Karla kali ini?!
Aku berusaha tetap tersenyum, siapa tahu dia beli satu buku ku lagi untuk dihadiahkan kepada teman nya.
"Ada yang bisa dibantu, Karla cantik?"
"Hehe..Kak Gina bisa aja. Ini, aku kan pernah cerita sama Kak Nila kalau ada orang luar yang suka nelpon ke sini nyariin Kakak."
Fokus ku langsung tercurah pada Karla, topik dua minggu yang lalu menyeruak lagi.
"Dan?"
"Namanya bukan Dan, Kak."
D'oh anak ini ya...
"Maksud aku, terus kenapa?"
"Nah kemarin itu dia telpon lagi, kebetulan security yang namanya Ropik bisa Bahasa Inggris, jadi aku kasih aja telpon nya ke dia."
Sadis. Front office merangkap operator kalah sama security. Ah, kenapa kamu fokus ke hal ini sih Gina?
"Iya. Lalu?"
"Nih."
Karla memberikan secarik kertas memo. Nama seseorang, nomer telepon, dan nama salah satu hotel bintang 5 di Jakarta Barat.
"Kata Ropik, Kak Gina diminta telepon ke sini. Tanya aja kamar Mr. Bruce Lee. Kayanya orangnya ganteng deh Kak. Suaranya aja enak gitu."
Dahi ku berkerut. Bruce Lee? Seriously?
"Kak?! Kok bengong?"
"Ahhh..enggak, ummm..kamu gak lagi mau ngerjain aku kan?"
"Ah, Kak Gina. Emang ultah Kak Gina minggu depan, tapi aku kan mana berani ngerjain penulis favorit aku." katanya dengan muka lugu.
Eh, terus ini apa?
Emang ada sih orang bernama Bruce Lee di dunia ini, tapi kok kayanya gak mungkin aku kenal sama salah satunya.
"Kak! Bengong lagi. Udah telepon aja hotelnya."
"Eh, iya. Nanti. Aku mau buru-buru pulang dulu. Driver ku udah nunggu. Makasih ya, Karla."
"Iya, Kak." Karla tersenyum.
Aku berlalu lalu tertawa dan geleng-geleng kepala. Pasti aku dikerjain.


Sabtu, 01 April 2017

Little Angel


Mereka bilang malaikat pernah datang ke bumi pada suatu waktu.
Aku pernah bertemu salah satu nya.
Malaikat kecil, bukan hanya untuk kedua orang tua nya tapi juga buat aku, membuatku belajar akan arti kekuatan dan harapan.
Bagaimana Surga, Jessie sayang?
Mereka lebih membutuhkan kamu sepertinya.
Tante kangen sama kamu.
Walau kita cuma bertemu 4 kali tak mengapa.
Doakan yang unda kamu lakukan buat teman-teman kamu sesama pejuang hati bisa lancar. And I promise you, my dear, I will always be there for your unda.
She is a real woman.
A very strong one.
I'm proud of her, we are proud of her, aren't we?

I love you, malaikat kecil. 




Bila ada yang membaca tulisan singkat ini dan ingin membantu anak-anak #pejuanghati bisa menyalurkan donasi ke rekening unda Jessie. You can ask me for the details. #PeduliAtresiaBillier #JessieFoundation

Sabtu, 25 Maret 2017

Paleo. (Part 4)

Gagal itu punya dua sisi yang wajib hati-hati kita pilih. Satu sisi membuat kita belajar buat bangkit dan satu sisi lagi membuat kita takut mencoba lagi. Saya tahu harus nya saya lupakan saja gagal menjadi orang yang dicintai pasangan saya sepenuh hati, tapi bayangan rasa sakit sewaktu tidak diinginkan oleh orang yang paling kita inginkan di dunia ini adalah racun. Itu terjadi ketika saya mulai menyukai seseorang, mulai memperhatikan seseorang yang saya kenal dengan lebih sering. Mungkin saja pemikiran positif itu bertahan seminggu atau dua minggu, merasa jatuh cinta dan merasa lebih bahagia. Tersenyum sampai orang mungkin menganggap saya sudah gila. Gina memang sudah gila. Itu kata Kak Nila.
"Gue bukan nya gak mau lagi, Kak."
"Trus apa? Iko membosankan? Kurang ganteng?" Kata nya berapi-api.
Iko terlalu ganteng, kadang saya aja mikir kenapa dia bisa tertarik mendekati saya. Postur nya bagus, not a gym freak but he runs every weekend. He's 182 cms height, 10 cms higher than me. Tan skin, thick hair and well groomed.
"Ish!"
Gemas, Kak Nila menarik sejumput rambut saya.
"Iko sayang sama elu, Gina."
Kak Nila duduk di depan saya dan setelah menghembuskan nafas kesal dia berkata seperti itu.
"Arga juga sayang sama gue. Waktu itu. Trus apa jaminan nya Iko gak akan ninggalin gue buat perempuan lain?"
Kata saya akhirnya. Terucap juga lah apa yang membuat saya trauma mencintai orang. Karena berharap itu terkadang menyakitkan, sementara manusia tidak mungkin tidak berharap.
"Iko bukan Arga."
Kata Kak Nila dengan penekanan di setiap kata nya.
"Iko memang bukan Arga, tapi jaminan nya apa dia gak akan pergi dari gue setelah liat ada perempuan yang lebih menarik perhatian nya daripada gue? Apa jaminan nya? Lu tau kan kalo gue udah sayang sama orang, Kak. So, daripada gue ngerasain sakit yang sama lagi, mendingan gue sendiri aja."
"Duh Tuhan. Susah kali ngomong sama anak keras kepala yang satu ini."
Entah kenapa saya tertawa sinis.

Raina-Kairo (Cemburu)

Sejak kapan kamu cemburu?
Pertanyaan kedua ini kembali membuat Ra terdiam.
Cemburu kepada siapa? Adinda?
Benarkah aku cemburu akan kehadiran nya?
Well, kehadiran yang tidak langsung sebenarnya. Karena Ra hanya kenal Dinda, panggilan Adinda, melalui cerita-cerita Kai. Dan dari beberapa komentar di media sosial Kai apabila Dinda tiba-tiba hadir. Bisa di Facebook ataupun Path.
Kalau mood yang tiba-tiba berubah karena Ra tidak sengaja melihat komentar-komentar Dinda difoto ataupun status yang dibuat Kai di medsos nya.
Kalau tiba-tiba Ra tidak melanjutkan makan bakso kesukaan nya di kantin kampus karena Kai menyalakan laptop dan langsung Skype-call dengan Dinda.
Kalau tiba-tiba dada Ra sesak setiap Kai menyebut nama Adinda Maheswari di depan nya dengan wajah berbinar.
Kalau itu semua tanda bahwa Ra cemburu? Ra bisa apa? Dinda yang dia tahu, atau yang dia anggap diri nya sendiri tahu, adalah perempuan ayu berdarah Jawa yang pintar.
Siapa yang tidak jatuh cinta kepada perempuan yang bisa dapat beasiswa ke Jerman selama 3 tahun itu?
Perempuan yang terlihat bebas karena senang berpetualang ke pantai mana saja di Indonesia. Kai bilang baru setengah dari 50 pantai terbaik di Indonesia didatangi oleh Dinda sebelum akhirnya dia harus ke Jerman untuk kuliah.

Siapa Ra kalau dibandingkan dengan Dinda?

Raina-Kairo (Menunggu)

Sejak kapan kamu menunggu?
Raina terdiam karena pertanyaan itu.

Entah sejak kapan dia merasa Kairo harus selalu ada di samping nya setiap waktu.
Karena selain itu selalu ada kosong terdeteksi di dada nya.
Bukan karena setahun ini mereka dekat, ah, mungkin memang itu.
Tapi dia tahu Kai tidak akan pernah berhenti menunggu perempuan lain yang sedang menuntut ilmu di Jerman.

Perempuan yang adalah cinta SMA Kairo dulu.
Yah, mungkin sampai sekarang.
Mereka memang sering menghabiskan waktu bersama, di mana ada Kai, pasti di dekat nya Ra ada.
 

Sejak seminggu yang lalu Ra baru menyadari kalau sekarang dia memandang Kai sebagai laki-laki, bukan sebagai teman berwisata kuliner nya tiap habis kuliah.
Bukan sebagai samsak kalau Ra sedang badmood.
Bukan sebagai tukang antar-jemput ke mana pun Ra butuh. 
Bukan sebagai Kai yang konyol dan selalu membuat Ra tertawa.
Dia memandang Kai sebagai tempat nya mencari motivasi. Memandang Kai sebagai tempat nya mencari inspirasi tulisan baru. Memandang Kai sebagai tempat nya bersandar, literary bersandar karena punggung Kai adalah tempat ternyaman buat Ra.

Walau cuma saat mereka berboncengan motor saja.
 

Ra baru sadar bahwa mata Kai itu hitam pekat, bukan coklat seperti yang dia duga.
Bahwa Kai tidak pernah makan tanpa ditemani kerupuk, bermacam kerupuk dia suka.
Bahwa senyum Kai selalu menyapa nya setiap pagi sebelum mereka berangkat kuliah dan setelah Ra sampai rumah kembali.
Bahwa Kai selalu berkata,
"Ra, isi otak lu banyak banget sih yg ga gue tau. Mata lu selalu berbinar kalau lu lagi cerita apapun ke gue. Full of excitement!"


Wajah Ra memerah teringat hal itu.