Tampilkan postingan dengan label Teh Tarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teh Tarik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Januari 2015

Teh Tarik - Chapter 15

Hari minggu. Masih rame aja taman monas. Daritadi jalan kaki muter-muter nyari tempat yang agak sepi biar enak ngobrol nya. Setelah merasa capek, entah memang harus diomongin saat ini juga atau apa, gue melihat spot sepi. Tangan Ardi daritadi gak lepas dari tangan gue. Dia ngoceh mulu.
Duduk di atas rumput yang memang boleh didudukin karena gak terlalu banyak.
"Jadi, kamu mau ngomongin apa?" kata nya.
Okay. Here we go.
"Kamu beneran sayang sama aku?" kata gue setelah menghela nafas panjang.
"Iya, aku sayang sama kamu teh manis." caranya dia manggil gue ngegemesin banget! Hah..godaan.
"Aku juga sayang sama kamu susu. Tapi kita beda." gue memberanikan diri menatap mata nya.
"Apa? Agama?" kata nya langsung.
"Iya. Apa mungkin bisa kalo iman kita beda?"
"Oma sama opa bisa kok walau beda."
Pernyataan nya itu bikin gue kaget.
"Maksud kamu?"
"Oma kan muslim, dee."
"Beneran?"
"Iya. Kalo kita datang dari pagi juga pasti kamu liat sendiri oma gak ikut ibadah."
"Oh gitu. Tapi aku sama oma itu beda, Ardi. Agama itu hal prinsip. "
"Iya aku tau. Aku ngerti."
"Would you listen until I am finished?"
"Oooppss..okay. I will."
Gue megang tangan nya. Di tempat temaram seperti ini gue bisa lihat mata nya penasaran, minta penjelasan lebih lanjut.
"Kamu, Minardi Genta Soehardiyanto..aku sayang sama kamu..tanpa rencana dan aku dua kali melanggar pengecualian aku. Aku ga mau terlibat lebih jauh dengan cowok oriental dengan alasan yang aku sendiri gak ngerti, that's first, kedua, aku gak pernah ngebiarin diri aku naksir lebih jauh sama cowok yang beda agama. It's bothering me dan itu hal yang paling berat aku langgar. I've crossed my own boundaries. You are my only exception."
"I love you, dee. "
Those 3 words bikin gue terpana. Sejauh itu? Aduh, gimana ini?
Lalu dia nyium bibir gue.
Dan salah nya gue bales.
Tapi gue langsung sadar dan lepasin bibir gue dari bibir nya.
Dugaan gue bener, makin hari gue akan makin cinta sama cowok ini.
"Ardi, dengerin aku sampe selese bisa?"
"Oke, maaf."
Dia mengangkat kedua tangan nya seperti seorang penjahat yang sudah menyerah.
"Aku bisa liat kita berdua barengan terus. I will love you more and more each day. Tapi...aku gak bisa. Agama itu adalah hal yang terlalu prinsip buat aku. My mom will hate me dan aku gak mau durhaka sama orang tua aku."
"Kalo aku jadi muallaf?"
"Jangan pindah agama karena cinta sama manusia nya, tapi karena cinta sama Tuhan nya."
Kalimat itu cukup mengena, Ardi terdiam.
"Aku tau klo pacaran kita bisa putus. Tapi aku sama sekali gak mau ambil resiko akan jatuh cinta lebih dalam sama kamu, lalu buta dan gak mikirin orang tua aku. Your parent might hate me kalo seandainya kamu jadi muallaf. Aku gak mau bikin kamu jadi anak durhaka."
"Kenapa kamu gak mau mencoba? Sebulan lagi mungkin?"
"Apa beda nya sekarang dan sebulan lagi? Enggak mau. Trust me, selama ini aku udah nyoba, di. Sejak kamu bantu aku di kost-an Nino."
"Trus sekarang mau kamu gimana?"
"I'll let you go. Sebentar lagi juga masa koas kamu di rumah sakit selesa kan? Jalanin dengan tenang, fokus dan selesaikan semua. Be a great doctor. Terus ambil spesialisasi yang kamu mau. Jangan cari aku. I'm not included in your future."
"You don't love me."
"I do love you. Trust me."
"Then stay. Stay with me."
"Aku tau kamu akan lupa sama aku bulan depan kalo udah pindah rumah sakit."
"Kalo enggak? Gak ada obat buat patah hati, dee."
"Kata siapa? Akan ada obat nya, akan ada orang lain."
"Aku gak mau."
"Gak mau tapi pasti bisa. Berdoa saja semoga Allah buka jalan buat kita."
Ardi kaya lagi mikir untuk ngebantah argumentasi gue, tapi bingung mau ngomong apa. Gak punya kata-kata lagi untuk memperbaiki ini semua. Alasan mendasar yang sangat mendasar yang kadang dilupain sama pasangan zaman sekarang.
"Jangan pernah ragu akan satu hal. I love you. I am and will always be. Terima kasih atas semua nya."
Gue peluk Ardi yang seperti mematung, air mata gue jatuh. Dan lalu mulai terisak. Dia meluk gue balik.
Di kepala gue mengalun sebuah lagu.
"I know we can't be together cos something we both know. I'll try to forget for anything that we had ever done."
Somewhere Someone nya Backalley.
Lalu gue berbisik di telinga nya.
"Aku, sedetik pun, gak pernah berpikirn untuk pergi, tapi aku harus."
Melepaskan pelukan kami dan gue menatap dia, mencium rahang dia yang kiri dekat bekas jahitan itu..bagian wajah nya yang pertama kali gue cium dulu.
"Jangan kejar aku. I love you, Minardi Genta Soehardiyanto."
Gue berdiri dan tergesa pergi dari sana. Langit terasa lebih gelap. Udara terasa lebih sesak. Hati dan pikiran sudah tidak sejalan.
Berjalan cepat ke stasiun gambir yang letak nya gak jauh dari sana. Hapus air mata lu, dee.
Di stasiun ternyata sepupu gue gak sendiri. Nyokap juga ikut. Gue bilang sama nyokap klo Ardi nanya bilang aja gak tau. Hp akan gue matiin setelah ini, dan gue janji akan nelpon nyokap begitu sampe. Semua keperluan gue udah dibawain mereka di tas ransel besar.
Nyokap keliatan sedih, tapi beliau tau gue melakukan hal yang benar. Memeluk beliau erat sekali sebelum naik ke gerbong. Berterimakasih sama sepupu gue karena mau repot-repot mencarikan tiket kereta api secara tiba-tiba dan mepet gini.
Pamit dengan berurai air mata lalu mencari tempat duduk di atas gerbong.
Kereta Argo Lawu ini akan membawa gue ke Solo dan gue akan melanjutkan perjalanan ke Magetan dengan bus travel. Desa di kaki gunung lawu itu tempat gue menghabiskan masa kecil dulu.
Ardi sms. Gue memutuskan untuk membaca dulu sebelum nanti akhirnya hp ini gue matikan.
2 paragraf pertama dari lagu Best Regret nya Backalley.
"So you're standing still. My lungs can't feel, you've said to me there's nothing left to save. You left me here then disappear. Without a word to make me understand. You know I can't move on without you near. Feels like the world stop turn. Please don't give up on me. I can not leave without you.
There's not a word for me to say..to make you stay and here's my best regret for the best thing that I've ever get. I love you, dee. I am and will always be."
Gak gue bales. Semua yang mau gue utarakan, udah gue omongin ke dia tadi.
Switching off the cell phone.
Kereta mulai meninggalkan Jakarta. Gue nengok ke arah jendela dan mulai menangis.
I love you to letting go.

Sabtu, 03 Januari 2015

Teh Tarik Chapter - 13

Turun dari mobil dan gue terpaku. Rumah oma nya Ardi terlihat sangat nyaman, halaman nya luas. Rumah ini bertingkat dua namun terlihat sangat sederhana, gak berlebihan. Ardi tiba-tiba udah berdiri di sebelah gue. Klo dari obrolan via telpon sih oma nya Ardi terdengar ramah, tapi siapa yang tau?
Tangan Ardi menggenggam tangan gue, mata gue memandangi jalinan tangan kami lalu arah pandangan gue makin lama makin naik, dan akhirnya menatap dia yang terrsenyum lembut. Dia mencondongkan badan nya dan berbisik di telinga gue..
"No need to be worry. Kan ada aku." lalu dia nyium pipi gue.
Seperti dihipnotis, gue cuma bisa ngangguk. Setuju.
Sedikit menarik tangan gue, dia mengajak gue ke dalam. Baru masuk udah tercium bau masakan dengan dominasi bumbu ketumbar,lengkuas dan daun salam. Sangat Indonesia.
Gue seneng liat cara tangan kami terjalin. Terlihat pas. Kecuali warna kulit kami yang agak kontras. Hehe..
"Omaaaa..." Ardi manggil oma nya dengan nada kerinduan, seperti anak yang kangen sama ibu kandung nya.
Blom ada jawaban dan dia narik tangan gue ke bagian lebih dalam rumah itu. Rumah nya luas ke belakang, rapih dan gak terlalu banyak perabotan.
Ternyata oma nya ada di halaman belakang. Dapur nya di bagian belakang rumah dan karena hari ini masak besar jadi nya agak dilebarin lagi makanya ngambil halaman belakang sedikit. Sudah ada panci besar nangkring di atas kompor. Oma sendiri sepertinya lagi ngebersihin kacang tolo, salah satu bahan yang dipakai buat bikin sambel goreng krecek nya.
"Oma sayang.."
Ardi nyium tangan oma nya lalu nyium kedua pipi wanita cantik itu..terakhir dipeluk. Sangat sayang keliatan nya.
Gue kira oma nya berwajah oriental, tapi ternyata malah seperti wanita jawa keturunan keraton solo. Ayu dan anggun sekali, plus awet muda.
"Kamu ya, sombong banget baru pulang lagi. Mentang-mentang oma udah tambah keriput, udah ga pernah ditemenin."
"Oma perempuan paling cantik,apa nya yg keriput? Sibuk, oma? Tekanan darah gimana? Jantung normal? Ada keluhan?" Ardi megang pergelangan tangan oma nya sambil ngeliat jam di tangan nya.
Maklum aja ya, dokter, jadi concern bener sama kesehatan, apalagi ini oma nya. Dia pernah bilang klo memang merawat oma lah tujuan dia jadi dokter.
"Daripada meriksa oma yang baik-baik aja, mending kamu kenalin oma sama dee."
Gue tersenyum, Ardi sepertinya lupa kalo dia dateng sama gue. Memperkenalkan diri sambil nyium tangan oma, kebiasaan gue kalo berhadapan sama siapa pun orang yang lebih tua.
Setelah itu Ardi dicuekin sama oma nya yang sibuk menjelaskan ke gue apa aja yang sudah beliau lakukan pada isi panci besar itu. Mbak Narti, perempuan yang membantu oma di rumah ini lagi ambil kerupuk kulit yang sudah dipesan sejak tadi sore. Gue melihat jam di telpon seluler gue, jam 8 malam.
"Eh,kalian makan dulu yuk! Maaf ya, oma sampai lupa."

Minggu, 28 Desember 2014

Teh Tarik - Chapter 12

When he holds my hand... it feels so right. I love the way he kissed me that night. God, I love him so much!!

Malam itu gue galau banget, sumpah. Begitu sampai rumah, gue langsung masuk ke kamar. Menyendiri. Kenapa daya magnetnya kuat sekali? I want him and I don't want him at the same time. Sepertinya memang harus diomongin sama Ardi juga. Aaah pusing!!
Tidur larut. Jam dua lewat baru bisa memejamkan mata. Ardi sms dan telpon beberapa kali, tapi nggak gue gubris... Hah.. matiin ajalah. Nggak tau kenapa, gue lagi males meladeni dia. Takut salah. Takut tambah suka. Takut kangen. Takut nangis!! Yeah.. call me a nerd.

Jumat pagi yang ngantuk. Tiga jam tidur dan sudah harus stand by di warung gue!! Si Adik udah nggak ngambek lagi, jadi dia yang beredar di kost-san.
"Mbak, dicari mas Ardi, nih.." Kata adik gue sambil memberikan selembar kertas, tapi karena warung masih ramai, gue belum sempat baca isinya. Jam setengah sepuluh warung gue baru mulai sepi. Gue sendiri dan ingat tentang kertas itu. Gue ambil dari kantong gue dan gue buka lipatannya.

"Maaf kalau kamu marah, but I won't regret it... I kissed you because I want to... Sebenernya dari hari Minggu itu aku udah mau cium kamu, tapi nggak ada kesempatan... meet me this afternoon.. no, evening. Jam setengah empat setelah gue dari rumah sakit."

Tulisannya nggak terlalu bagus, tapi masih bisa dibaca. Ketemu dimana? Dasar orang aneh!!
Gue menutup warung tepat di saat adzan Dzuhur mengalun. Gue langsung ke kamar dan menyalakan handphone yang gue biarkan mati dari semalam. Tons of messages from Ardi!! Jadi merasa bersalah. Pasti Ardi sendiri juga merasa nggak enak banget, ya? Dia mengira gue marah dan sebagainya. Pasti dia nggak bisa fokus di rumah sakit.

***

Sore itu gue duduk di dekat ruang ATM di rumah sakit, memperhatikan anak-anak kecil berumur 7 hingga 12 tahun latihan karate. Gue duduk di lantai koridor yang menghubungkan bangunan gedung rawat jalan dengan rawat inap. Lantainya tinggi, jadi enak duduk disitu. Adem juga. Gue mengambil posisi agak jauh dari orang-orang yang juga menonton anak-anak itu latihan.
Tiba-tiba ada tangan dari belakang dengan sebuah es cream conello. Gue tau itu tangan Ardi. Khas banget, karena urat-urat di tangannya yang timbul. Tipikal tangan anak basket. Dia tersenyum dan gue ambil es krim itu dari tangannya.
"Terima kasih.."
Lalu Ardi duduk di sebelah gue. Kita berdua sama-sama makan es krim. Sebuah kantong plastik menengahi kami, sebagai tempat sampah.
"Tas dan jas lo mana?" Tanya gue.
"Udah dititipin ke Amir, dibawa ke kost-an. Dee, makasih ya semalem jahe nya. Badan ku enak banget abis minum itu. "
"Iya, sama-sama, kan spesial buat yang ultah. Oh iya.."
Gue ambil paperbag yang gue taroh di bawah jalan beraspal itu. Di deket kaki gue.
"Selamat ulang tahun." kata gue.
"Eh, kok repot-repot amat?"
I just smile dan mengurangi salting dengan menekuni es krim di tangan gue. He just staring at me and then I'm shaking.
"Sesuatu yang bisa dipakai dan bermanfaat, semoga suka."
"Thank you. Nanti ya buka nya? Tangan nya lengket." kata Ardi lucu.
Hening yang agak lama, agak canggung untuk memulai apa yang sebenernya mau kami berdua omongin dan kami malah sibuk sama es krim masing-masing. Klo kebetulan saling pandang paling senyum doang trus buang muka. Haha..lucu banget deh pokok nya.
"Es krim ku cepet banget abis nya. Gak enak nih tangan nya, lengket."
"Sini tangan nya.." kata Ardi menggantungkan tangan nya yang terbuka di udara.
"Eh?"
"Sini."
Dia ambil tangan gue trus dilap pake tisu basa,entah dapet dari mana. Gue gak liat dia ambil darimana dan kapan, kaya anak bayi aja dilapin kaya gini. Haduh. Di tempat umum kaya gini lagi. Malu. Mana muka nya keliatan telaten banget lagi bersiin tangan gue.
"Makasih." kata gue malu-malu setelah selesai. Gak lengket lagi dan harum. Kemudian dia bersiin tangan nya sendiri.
"Sama-sama."
Umm....ini kita kapan ngomong nya ya?
"Dokter Min.."
"Iya?" kata nya, tumben nyaut dipanggil dengan nama itu.
"Yang semalem i.."
"Dee, boleh dibuka gak?"
Omongan gue langsung dipotong dan muka exciting nya bikin gue mengangguk. Dia pun buka paperbag yang bagian luar nya gue kasih hiasan bunga dari pita itu. Kado nya sih gak dibungkus, cuma dikasih plastik aja.
Kemeja biru gelap bergaris vertikal lengan pendek. Gue selalu suka liat dia pake kemeja. Dan seperti nya koleksi kemeja nya Ardi terbatas.Cowok itu klo pake warna gelap pasti keren, irresistable.
"Coba ya?" mata nya terlihat berbinar-binar.
Gue bisa bayangin dia pake kemeja itu pas gue akhirnya memilih untuk beli itu di toko. Pasti keren. Pasti Ardi banget dan sekarang walau kemeja nya didouble, dia terlihat seperti yang gue bayangin.
"I love it. Love it very much. Thanks ya, dee."
"Sip." gue nunjukin dua jempol gue.
Setelah puas nyoba, dia lipet lagi kemeja itu dengan rapi lalu dimasukin ke paperbag lagi.
"Dee?"
"Ya?"
"Gudeg kamu itu bisa dipesen gak sih?"
"Bisa dong. Tapi musti dari jauh-jauh hari."
"Yah, gak bisa dong klo buat besok?"
"Emang buat siapa?"
"Buat oma. Ada arisan gitu di rumah oma besok. Gue udah keceplosan mau bawain oma gudeg."
"Hahaha...maka nya jangan sotoy. Siapa suruh main bilang bisa aja?"
"Yaahhh..dee...bantuin dong." kata nya dengan muka memelas.
"Gimana cara nya? kan bikin nya harus seharian. Makin lama makin enak. Sekarang udah jam berapa coba? Bikin sendiri aja gih. Gue kasih tau deh bahan dan segala macem nya."
"Telpon oma dulu deh klo gtu."
"Oma punya asisten gak?"
"Ada. Bentar.."
Dia pun ngerogoh kantong dan menelpon sang oma. Menjelaskan sesuatu dan dilihat dari cara dia berbicara sama oma, sepertinya mereka punya hubungan yang dekat dan dia sayang banget sama oma nya. Maklum aja sih, kan pas kuliah dia tinggal sama oma nya.
"Nih oma mau ngomong."
Eh? Apa-apaan nih? Gue melotot karena merasa ditodong. Makasain gue nerima angsuran telpon itu, ngomong sama Ardi aja grogi, apalagi sama oma nya?
Setelah menarik nafas panjang akhirnya gue beranikan ngobrol ditelpon sama oma nya ni anak. Pake diliatin lagi, ya double lah salting nya.
Akhir nya sore itu pun gue sama Ardi meluncur ke rumah oma di daerah Serpong, Tangerang. Jauh yaaa....
Tadi sempet ngasih petunjuk ke oma dari cara milih nangka yang bagus untuk gudeg sampe komposisi bumbu dapur yang dipake. Sebenernya udah lengkap dan di sana ada mbak yang bantuin, tapi karena oma nya takut salah, akhirnya beliau nyuruh supir jemput Ardi dan gue ke sana.
Terjebak di jok belakang sama Ardi yang daritadi diem aja. Padahal dia kan sempet minta ketemu karena kita mau ngobrolin sesuatu. Payah.
Sampai gue menguap berkali-kali karena hari ini melelahkan sekali. harus nya gue udah tidur walau sebentar, nah ini..malah ke Serpong. Jauh dan membosankan karena gak ada yang diajak ngobrol.
Posisi gue di belakang supir dan bapak nya ini nyetel semacam kleningan musik jawa dari stereo set di dashboard. Makin ngantuk, gue nengok ke kanan dan menyenderkan kepala sambil memejamkan mata.
Hari jumat di jam pulang kantor tau sendiri kan gimana Jakarta? Terkaget oleh bunyi telpon selular, seperti nya tadi gue tertidur sebentar. Nyokap sms nanya gue udah sampai mana. Gue mengedarkan pandangan ke luar jendela, masih di tol dalam kota daerah pancoran.
"Aku ngebosenin ya?" kata Ardi tiba-tiba dan itu bikin gue otomatis nengok.
"Yes,you are. Lagian diem aja, gue tambah ngantuk."
"Sini.."
Ardi menarik badan gue supaya lebih dekat ke dia, bahu gue dirangkul lalu naroh kepala gue di bahu nya. Muka gue berasa memanas dan lebih memanas lagi karena gue menangkap basah mata pak supir nya ngeliatin kami lewat spiom tengah.
"Ihhh..gak gini juga. Ajak gue ngobrol juga udah cukup, pak min."
Gue bangkit dan kembali duduk tegak.
"Ngobrol apa?"
"Apa aja."
Gue sebenernya tegang juga ini mau ketemu oma nya Ardi, cowok yang notabene udah nyium bibir gue beberapa hari lalu...cowok yang blom ngejelasin ke gue perasaan apa yang sebenernya dia punya ke gue, tentang kami. Cowok bertampang oriental pertama yang gue taksir, yang gue sayang, satu-satunya pengecualian gue.
Terlalu banyak cerita yang gue sampaikan ke dia tentang gue, sekarang gamtian, gue mau membombardir dia dengan banyak pertanyaan.
"Please don't ask something private, there's someone else's here." katanya.
"Lisan kan? Klo tulisan? Boleh?"
Gak kehabisan akal. Gue ngeluarin note kecil yang selalu gue bawa di tas. Megang pensil dan memberikan pulpen untuk Ardi.
"I ask you then you ask me. Okay?"
"Okay."
Awal-awal sih masih nanya pertanyaan gak penting dan bikin kami ketawa-tawa doang. Tapi gue terdiam begitu baca pertanyaan dia yang sekarang.
"Kamu nyesel aku cium?"
Gue nahan senyum.
"Gak. I kissed you back remember?"
"Yea. You liked it?"
"Definetly. Did you?"
"Just like my personal drug."
Setelah itu kami udah kaya anak remaja yang baru pertama kali jalan berdua. Malu-malu dan sama sekali gak berani mandang wajah masing-masing.










Selasa, 12 Juli 2011

Teh Tarik - Chapter 11

Hari-hari selanjutnya mulai jarang ketemu Ardi, tapi masih sms-an atau kadang telpon. Handphone-ku baru! Alhamdulillah.. hari Senin kemarin dia nitipin coklat ke Didit buat gue. Hihihi... asik!! Makin lama, gue makin merasa nyaman sama Ardi, tapi gimana ini? Mau diterusin atau enggak? Dia udah punya semua yang membuat gue nyaman di dalam sebuah hubungan 'laki-laki dan perempuan lebih dari teman'. Tapi kita berbeda agama. Nyokab gue nggak akan suka!! Gue taunya kalau kita pacaran sama seseorang, ada dua hal yang pasti. Putus, atau menikah. Itu doang. Nggak ada yang lain. Masa baru pacaran aja udah mikir akan putus? Kalau nikah... apa akan semudah itu gue ikhlas dia pindah agama untuk gue? Kalau gue sih nggak mau pindah agama, apalagi untuk orang lain. Cuma satu ini egoisnya gue. Agama yang gue anut sekarang ini adalah harga mati. Kalau nggak lanjut... I'm in love with him... already. Deeply.
Rabu itu gue galau. Akhirnya nangis sendiri. Lukita aja yang pernah pacaran dengan orang yang beda agama pernah gue (sok) nasehati.
"Gue tau sedih banget, tapi mending dari awal di-stop aja."
Ingat sama omongan lo sendiri, Dee!!
Hhh... sudahlah. Jalani aja.. yang penting... apa ya? Aaah... bingung sendiri!! Tapi paling cuma sementara, Ardi kan disini cuma koas, paling juga dua bulan. Sekarang aja udah hampir satu setengah bulan dia disini. Abis nangis, rasanya kayak orang patah hati. Kayak diputusin sama Ardi. Padahal lagi sayang-sayangnya. Saat gue menutup mata aja, di bayangan gue cuma ada wajah Ardi, dan sering mimpiin dia juga. Hah... He really got me!! Gue tau dia nggak sengaja... Gue juga tau gue nggak sengaja jatuh cinta sedalam ini sama dia. Hah!! Benar-benar, deh. Ya Allah... mudah-mudahan dia nggak jatuh cinta juga sama saya.

***

"Apaan? Rese nih. Lagi nonton DVD juga!!" 
"Sana... cepet!!" Kata Nyokab.
Adik gue ngambek sama nyokab dan akhirnya dia nggak mau nganterin katering-an buat anak-anak kost. Haduuuh...
Ganti hotpants dengan rok batik selutut, terus ngaca sebentar, lalu ngambil makanannya. Untung udah sholat maghrib tadi.
Seperti biasa. Kost-nya Nino terakhir aja.. hehe.. Kangen juga sama Ardi. Udah hampir empat hari nggak ketemu, hihihi... Ini hari Kamis, dan biasanya Kamis itu hari dimana banyak kejadian bagus gue alami. I was born on Thursday by the way. Pas gue masuk ke halaman depan rumah Nino aja gue udah merasa deg-degan. Aaah... tangan gue gemetaran!! Parah!!
Tapi kok sepi amat, sih?
"Ssstt... Dee..." Sebuah suara tiba-tiba menyapa telinga gue. Gue menengok kanan-kiri dan menemukan Destu  di depan kamarnya di lantai satu.
"Ngapain disana?"
"Sini!! Jangan ditaruh dulu makanannya. Kita lagi bikin Ardi kesel. Dia kan ulang tahun."
Hah? Ardi ulang tahun? Kenapa gue nggak tau?
"Ada kue nggak?" Tanya gue ke Destu.
"Nggak ada."
"Yang lain kemana?"
"Di rumah depan. Kesana yuk. Gue baru selesai mandi, nih. Yuk."
Destu menawarkan diri membawakan makanan yang gue bawa, lalu kita pelan-pelan keluar. Kayak maling aja. Rumah depan ramai. Semuanya ada disitu. Ternyata mereka berencana ngerjain Ardi nanti. Mandi malam-malam dia.
Nggak ada kue ulang tahun, tapi gue punya ide. Dulu waktu temen gue ulang tahun, dia dapat martabak manis yang nggak dilipat, terus di tengahnya dikasih lilin. Mas Peno pun akhirnya disuruh beli martabak manis yang mangkal di depan rumah sakit. Lilinnya ada di laci dapur rumah depan, sisa lilin dari ulang tahun entah siapa...
"Ntar kalau Ardi curiga gimana?"
"Tenang aja. Dia baru pulang tadi.. lagi mandi kayaknya." Kata Amir.
Terus ntar diapain? Skenarionya, Ardi pasti keluar kamar buat cari makan, tapi karena di meja makan nggak ada apa-apa, Ardi akan tanya ke yang lain, tapi nggak ada orang di rumah. Dia pasti akan ke rumah depan. Nah, sebelum sampai di rumah depan, Ardi akan disergap terus diserang dengan telur, tepung, dan kecap sebanyak-banyaknya. Hahaha... kasihan. Pasti nanti mandi lagi!
"Yang bawa martabaknya elo aja, Dee, biar surprise!" Kata Destu sambil mengedipkan mata. Gue mengangguk. Aaah... kalau tau dia ulang tahun, gue pasti beliin sesuatu. Umurnya 24 tahun, lebih muda setahun dari gue.
Begitu Ardi keluar dari dapur, mereka keluar, berdiri menunggu, menyebar di tiap penjuru mata angin. Mas Peno datang dan gue segera memasang lilin di martabak itu. Satu aja. Nanti waktu gue keluar, barulah dinyalakan lilinnya sama mas Peno.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ribut-ribut dari 'panggung utama'. Cowok-cowok itu pada teriak-teriak, ketawa-tawa, dan suara Ardi juga... hahahaha... pasti keren nih!! Pengin nyeplokin Ardi pakai telur juga rasanya. Agak lama, lalu pintu di depan gue buka, lilin dinyalakan, dan gue pun berjalan keluar. Semua menyanyikan lagu Happy Birthday buat Ardi seiring dengan keluarnya gue sambil membawa martabak ulang tahun itu, hahaha.
Tiba-tiba ada sebuah blitz berkilat ke arah gue, dan ternyata Amir membawa handycam. Ardi agak kaget melihat gue, tapi semakin gue mendekat, senyumnya semakin melebar.
"Make your wish..." Kata gue begitu lagu Happy Birthday selesai dinyanyikan. Ardi menundukkan kepala dan memejamkan mata, dengan hanya cahaya lilin yang menyinari wajahnya, dia terlihat charming sekali. Nggak lama kemudian, Ardi kembali membuka mata dan meniup lilin.
Hihihi... lampu dinyalakan dan Masya Allah... ancur banget penampilannya Ardi. Udah kayak adonan aja. Anak-anak langsung menyiram Ardi dengan air melalui selang terdekat... hahaha... mandi di luar deh dia. Gue menyingkir, ketawa-tawa memperhatikan tingkah cowok-cowok yang kayak anak kecil itu.
"Eh, jangan lama-lama... nanti Ardinya masuk angin itu!!" Kata gue.
"Iya guys, udahan ya. Gue mandi dulu." Kata Ardi yang tampak kedinginan, tapi tersenyum lebar.
"Ya udah sana!! Dasar..." Kata Amir yang juga tampak puas berhasil ngerjain Ardi. Gue menuju ke ruang makan di rumah depan, menyiapkan makanan buat cowok-cowok itu. Nggak lama kemudian, mereka udah menyusul. Wajahnya kelihatan lapar semua. Ardi gimana ya? Takut dia masuk angin.
"No, ada jahe nggak?" Tanya gue ke Nino.
"Jahe? Nggak ada. Buat apaan?"
"Kasihan Ardi, takut masuk angin."
Dan baru sedetik kata itu meluncur, cowok-cowok itu langsung sibuk batuk-batuk dan ber-prikitiw ria. Haduuuh... orang mau berbuat baik kok digodain, toh?
"Saya tanyain sebelah ya, Mbak." Kata mas Peno.
"Bilang aja mau ketemu Tuti!!" Kata Destu. Mas Peno cuma nyengir. Mbak Tuti itu pembantu rumah sebelah kayaknya, hehe.
Karena jahenya harus dibakar dan nggak mungkin dibakar di dapur sini karena cowok-cowok itu lagi makan, akhirnya gue balik ke rumah belakang. Jahe itu ditusuk garpu, dibakar di kompor gas, gagangnya gue bungkus dengan kain karena makin lama makin terasa panas. Setelah selesai dibakar, jahenya didinginkan, dibersihkan kulitnya dari yang gosong-gosong, terus digeprek, lalu masukkan ke rebusan air. Eh... teh jahe atau susu jahe ya? Apa malah kopi? Ardi udah selesai belum sih mandinya?
Gue naik dan menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua karena saat gue cek kamar mandi nggak ada suara apa-apa. Jadi mungkin Ardi udah selesai.
"Dokter Min...!!" Panggil gue sambil mengetuk pintu kamarnya yang berwarna putih. Gue belum ngucapin selamat ulang tahun juga. 
"Susu..." Gue memanggil lagi. Ini anak kemana toh? 
"Pak Min...!!" Akhirnya semua panggilan udah gue sebut.
"Iya, bentar.."
Pintu kamar dibuka. Ardi udah terlihat segar, udah ganti baju dan segala macamnya. Rambutnya ke depan semua, jadi kayak anak kecil.
"Mau teh jahe atau susu jahe?" Tanya gue.
"Hah?"
"Gue takutnya lo masuk angin, jadi gue bikinin susu. I mean, mau apa? Susu jahe atau teh jahe?"
"Umm... teh aja deh, Dee. Pakai susu juga boleh."
"Teh tarik jahe? Tadi ngapain sih? Kok nggak jawab dipanggil berkali-kali?"
"Lagi pake baju."
"Yaa minimal dijawab dulu kali kalau ada yang manggil. Dasar.. Terus kenapa nggak bilang kalau ulang tahun?"
"Tadi kan gue sms lo, minta lo buat dateng kesini."
"Heh? Nggak ada ahh... Apa belum kebaca? Ah, whatever. Maaf yaa... kalau tau pasti gue bawain sesuatu."
"Nggak apa-apa."
"Ya udah... happy birthday ya.." Dan gue beranikan diri maju selangkah, lalu mengecup pipi kirinya. Gue senyum, lalu langsung buru-buru kabur ke bawah. Nggak berani nengok. Malu! Haduh... ini aja gemetaran. Dia itu cowok pertama yang gue cium. Aaa... merah deh pasti  ini wajah gue!! Dan... gue kalau lagi salah tingkah, gemetaran dan sebagainya, punya kebiasaan buruk. Apa yang gue pegang pasti berantakan, jatuh... dan bahkan bikin minuman buat Ardi aja berantakan. Haah... Payah!!
Teh tarik plus jahe itu gue taruh meja, sementara gue membersihkan sekitar nampan gelas dan mencuci alat-alat masak yang tadi gue pakai. Sesekali gue menyeka keringat. Pasti keringetan kalau lagi salah tingkah. Nah... udah selesai. Pulang deh... nanti dicari nyokab.
"Astaghfirullah..." Gue berseru kaget saat berbalik dan menemukan Ardi sudah berdiri di dekat meja makan.
"Eh, sorry sorry... beneran nggak maksud..." kata Ardi. Gue mengelus-elus dada dan bisa merasakan detakan jantung gue sudah melebihi kecepatan gerak jarum detik yang ada di jam. Haduuuh...
"Gue pulang ya... itu minumannya... mudah-mudahan nggak masuk angin." Kata gue buru-buru dan langsung mau kabur.
"Eh, bentar..." Ardi tiba-tiba menahan tangan gue, membuat gue menghentikan langkah gue yang sudah setengah ngebut itu. Dia membenarkan posisi badan gue sehingga kami berhadapan, dan tiba-tiba Ardi memeluk gue, melingkarkan tangannya di bahu gue. Gue kaget. Parah kagetnya.
"Aku kangen sama kamu..." Katanya di telinga gue. Tangan gue pelan dan ragu, tapi akhirnya memeluknya balik. Nggak lama, Ardi melepas pelukannya dan memegang dua rahang gue, seakan wajah gue mudah pecah. Hati gue was-was, jantung gue berdetak semakin kencang. Ardi menatap gue dan tatapannya membuat gue serasa tertelan. Pelan-pelan wajahnya mendekat dan akhirnya gue pasrah. Gue menutup mata sajalah....


Kamis, 07 Juli 2011

Teh Tarik - Chapter 10

Gue baru bisa membeli handphone hari Senin nanti, jadi untuk sementara, gue memegang handphone adik gue dulu. Sore ini gue akan pergi nonton Backalley di Sky Dinning. Acaranya jam delapan malam. Gue udah bilang sama Nenno kalau handphone gue rusak dan minta dia untuk mengkonfirmasi kedatangan kita berdua ke Vitha dan Bunda Sylvia. Aaah... senangnya hang out bersama mereka lagi. Gue pergi ke Semanggi naik angkot karena nggak bisa naik motor, padahal di rumah ada dua motor nganggur, sedangkan Nenno juga lagi malas bawa motor. Capek mungkin, jadi kita memutuskan untuk jalan setelah maghrib.
"Dit, gue lihat Backalley dulu ya di Sky Dinning.." Kata gue pada Didit sebelum berangkat.
"Dimana tuh, Mbak?" Tanya Didit.
"Plaza Semanggi. Mau ikut?"
"Enggak ah. Ini mau anterin makanan tau. Pulang jam berapa, Mbak?"
"Nggak tau. Acaranya aja baru mulai jam delapan. Paling sebentar doang terus pulang."
"Oh, ya udah hati-hati..."
"Sipp dahh!!"

Hmm... Berangkat!!

Kita berangkat naik bus Jepang,bus ini agak menyenangkan daripada bus patas biasa, lebih lega, terang, dan murah. Jadi inget dulu waktu masih kerja di Grogol. Kita sampai di Sky Dinning jam setengah delapan malam, tapi Sylvia belum datang, apalagi Vitha. Akhirnya gue dan Nenno duduk di salah satu kelompok kursi yang kosong, di dekat teman-teman personel Backalley yang lain, termasuk pacar-pacar mereka. Pacar vokalisnya paling baik dan dekat sama kita.
Huaah... mana nih Sylvia? Backalley udah siap-siap mau tampil, tapi dia nya belum sampai. Katanya tadi macet di jalan. Ayolah cepat!! Kalau si puding, I mean, Vitha, sih emang mau lihat performance yang lain, jadi wajar kalau dia santai-santai dulu. Dan Sylvia datang pas banget saat intro lagu pertama mengalun. Yes! Asik! I Will Never Find Someone Like You mengalun. I kiss her cheeks dan kita pun mulai bernyanyi dan goyang sedikit-sedikit, hehe. I just love their music! I've been saying it like... many times. Hahaha...
Kita berdiri di depan panggung, agak di sebelah kanan sih dan agak jauh juga, but it's fun. Lalu setelah itu, Best Regret, Wondering, Never Be The Same, dan terakhir Somewhere Someone. Selalu terhibur dengan penampilan mereka. Musik yang berkualitas. Sayang, aliran indie agak susah untuk cepat dikenal luas. Mudah-mudahan banyak yang minta mereka tampil setelah ini. Amin.
"Lihat deh cowok itu.." Kata Sylvia tiba-tiba. Gue baru mau menoleh, tapi tau-tau Vitha datang. Benar-benar nggak lihat Backalley tampil nih, dia.
"Cowok yang mana, Bun?" Tanya gue.
"Yang pakai kemeja, rambut berdiri, di belakang kamu." Kata Bunda agak berbisik.
"Kenapa dia?"
"Kok dia kayaknya hapal lagu Somewhere Someone ya? Tapi aku belum pernah lihat dia sebelumnya."
Hmm... cowok berkemeja, rambut berdiri...? Ciri-ciri yang familiar. Gue menoleh dan bersamaan dengan cowok itu melihat gue. Gue kaget.. Cowok itu tersenyum dan melambaikan tangan ke gue. Dia Ardi.
"Loh, kok dia melambai? Kamu kenal?" Tanya Sylvia.
"Sebentar ya, Bun."
Gue berjalan ke arah cowok itu.
"Hey, what are you doing here?" Tanya gue, deg-degan parah dengan kejutan tiba-tiba ini.
"Katanya harus lihat mereka live.. kebetulan hari ini bisa. Sombong ya?" Balas Ardi.
"Siapa?"
"Teh manis sombong."
"Gue? Kenapa?"
"Telpon nggak diangkat-angkat."
"Loh, kok bisa telpon? Kan telpon gue rusak."
"Hah? Masa sih?"
"Iya. Emang sms delivered?"
"Umm... Kayaknya sih... pending."
"Huh! Dasar susu basi."
"Hehehe... pantesan nggak sms beberapa hari ini."
"Iya, maaf ya nggak ngasih tau. Eh, kesini sama siapa?"
"Sendirian. Bawa mobilnya Nino. Kamu mau pulang jam berapa?"
"Sebentar lagi, kok. Umm... tadi udah dimakan jatah-jatahnya?"
"Belum. Nanti aja. Pulangnya bareng aja, ya."
"Umm... tapi gue sama Nenno.  Rumahnya yang ada warungnya itu, lho. Keponakannya pak Haji."
"Ohh, ya udah nggak apa-apa. Sekalian aja."
"Yuk, gue kenalin ke temen-temen gue. Dan ke anak-anak Backalley juga."
"Eh, nggak usah. Gue disini aja."
"Udah... ayoo..." Gue menarik tangan Ardi. Nenno dan Sylvia memasang tampang penasaran saat melihat gue menarik Ardi ke arah mereka. Wajah gue udah panas, pasti merah. Untungnya disini agak gelap. Gue pun mengenalkan Ardi ke Sylvia, Nenno, dan Vitha. Tiga sahabat gue itu kayak dapat moment "aha!" saat si Susu menyebutkan namanya. Gue cuma senyum-senyum aja.
"Dokter Min aja ya manggilnya." Kata gue setelah Ardi berkenalan dengan mereka.
"Hissh... neng teh manis berisik, deh." Kata Ardi.
"Huuu... susu!!"
Nggak lama kemudian, vokalis Backalley mendekati kita untuk menyampaikan terimakasihnya karena kita udah datang. Kebiasannya memang kalau kita datang nonton, pasti dia menyempatkan diri untuk mengucapkan terimakasih secara langsung.
"Dha, ini kenalin temen gue. Udah gue racunin sama album kalian." kata Gue.
"Hai, Dhydha." Si vokalis mengulurkan tangannya ke Ardi.
"Ardi. Musik kalian keren. Selera musiknya Dee emang bisa dipercaya." Kata Ardi bersemangat.
"Wah makasih." Dhydha memandang gue dan Ardi bergantian dengan alis naik-turun. Ngapain sih, nih anak?! Suka aneh. Dhydha emang suka ngeledek gue.
Selagi Sylvia menanya-nanyai Ardi, gue penasaran dengan maksud gerakan mata Dhydha tadi.
"Apa?" Tanya gue ke Dhydha.
"Apanya?" Tanya Dhydha balik. Haduh, dudul juga nih anak.
"Tadi, mata mengisyaratkan hal yang tidak jelas." Kata gue sambil memperagakan gerakan mata Dhydha yang naik turun tadi.
"Ihihi... tumben sama cowok. Pacar ya?" Katanya agak berbisik di telinga gue. Saat gue lihat wajahnya, alis mata vokalis ini sudah naik-turun lagi sambil nyengir. Gue cuma melet, lalu mengalihkan topik dengan ngomongin penampilan mereka barusan.

"Ciee... kece ya, Susumu itu!!" Sylvia sms, padahal dia ada di depan gue.
Kebiasaan dia banget memang. Suka begitu, kadang iseng, kadang memberi komentar melalui sms kalau ada sesuatu yang nggak enak diomongin langsung. Gue cuma cengar-cengir dan melet ke dia.
"Mau pulang?" Tanya gue ke Ardi.
"Ha?" Ardi bertanya balik. Maklum, ramai banget disini. Apalagi ada live music-nya. Gue mendekatkan wajah gue ke wajahnya dan mendekatkan bibir gue ke dekat telinganya.
"Mau pulang sekarang? Pasti lo laper, deh." Kata gue, lalu memandang Ardi. Ardi mengangguk. Pasti dia laper. Biasanya makan jam setengah tujuh, eh ini udah hampir setengah sepuluh dan dia belum makan apa-apa.

"Tante... laper!!" Kata Nenno.
Kita bertiga, gue, Ardi, dan Nenno sudah di dalam lift. Sylvia dan Vitha masih di rooftop, nunggu Soul ID tampil.
"Burger mau?" Tanya gue ke Nenno. Dia mengangguk. Akhirnya kita ke salah satu gerai fast food di mall itu. Gue nggak lapar, tapi gue beli satu. Ardi menemani tanpa komplain. Sebenarnya tadi gue sempat melihat dia memegang perutnya. Nggak tega. Mungkin sayang sama makanan jatah dia yang di rumah, jadi dia nggak jajan disini. Dari sana, kita langsung ke tempat parkir mobil karena akan pulang bareng Ardi. Gue sempat bingung mau duduk di bangku depan atau di bangku tengah. Nenno kan' di tengah, kalau gue di tengah juga, Ardi jadi kayak supir. Kalau di depan... ah, malu gue. Pasti diledekin sama Nenno.
"Udah, depan aja!!" Kata Nenno di telinga gue sambil melotot. Haduh...
"Gue duduk dimana nih, Pak Min?" Tanya gue ke Ardi.
"Di depan aja, temenin gue. Butuh navigator nih, udah agak ngantuk." Kata Ardi.
"Tuh, dengerin kata Pak Min." Timpal Nenno.
Sial!!
Akhirnya gue duduk di bangku depan juga. Canggung banget. Nenno sengaja banget duduk di belakang Ardi dan mulai ngeledek dengan memasang mimik wajah yang lucu saat gue menoleh ke arahnya sedikit. Mobil mulai meninggalkan basement. Sylvia sms lagi.


"Cieeeh... pulang bareng! He's nice by the way. Ayo, sikat!!"

Gue tertawa kecil.

"Sikat gigi? Aduh, aku deg-degan nih. Duduk di sebelah dia, sementara Nenno di belakang Ardi."


"Ciee... nggak bisa tidur deh!!"


Antrian untuk keluar mall lumayan panjang. Nenno mulai makan burgernya. Gue mengingatkan dia supaya nggak mengotori mobil karena ini mobil Nino. Suasana hening sesaat... lalu suara aneh muncul. Haduh, perutnya Ardi minta diisi. Gue memandang cowok yang sekarang terlihat salah tingkah itu, lalu pelan-pelan tawa kami meledak. Gue mengambil burger yang tadi gue beli, gue buka bungkusnya, lalu gue sodorin ke Ardi. Ardi memandang gue dan burger itu bergantian.
"Eh, gimana makannya?" Tanya Ardi.
"Udah tinggal buka mulut, terus gigit, telen, kalau seret, gue bawa minum kok. Ayo.." Gue mengangguk meyakinkan, tapi Ardi kayaknya masih bingung. Aneh kali ya...
"Daripada kena maag, ayoo! Tangan gue pegel nih lama-lama."
Agak ragu, kepalanya maju mundur, tapi akhirnya dia gigit juga, lalu dia menengok dan tersenyum ke gue.
"Elo nggak laper, Dee?" Tanya Ardi. Mulutnya sudah kosong. Gue menggeleng dan menyuapi burgernya lagi ke mulut cowok itu, begitu terus sampai akhirnya habis. Gue tersenyum lebar sambil memberikan tisu ke Ardi.
"Sini tisunya, jangan dibuang sembarangan." Gue menukar tisu dengan botoh air mineral yang sudah gue kasih sedotan. Gue menyatukan sampah yang gue pegang di tempat Nenno duduk, lalu mengambil air mineral yang diangsurkan Ardi ke gue.
"Makasih, ya.." Kata Ardi.
"You're very welcome."
Sudah sampai Dewi Sartika, sebentar lagi perempatan Kalibata, nggak terlalu macet, tapi entah nanti di jalan raya Bogor gimana.
"Mereka keren, ya. Orangnya juga baik-baik. Humble." Kata Ardi.
"Siapa?"
"Backalley."
"Iya dong, dokter. Apalagi vokalisnya, ya nggak, tante?" Kata Nenno. Agak rese yaa... udah tau ada gebetan gue. Ardi memandang gue, sepertinya bertanya-tanya gitu.
"Adhe juga baik, ya, No? Paling keren malah. Aaaa... kak Adhe!!" Gantian gue meledek Nenno.
"Ah, tante... dia kan punya pacar."
"Hehehe... cari lagi yang lain. Jadi suka kan sama mereka?" Tanya gue ke Ardi.
"He? Backalley? Gue normal, kok. Suka sama cewek, hehehe..."
Gue tonjok bahu kirinya.
"Musiknya laaah.... payah nih, pak supir."
"Haha... Keren, kok. Live-nya mereka... kualitas internasional."
"Setujuuu..."
Ternyata sedikit padat di jalan raya Bogor. Kita terus mengobrol. Aaah... Seru banget malam itu. He is super nice. Kalau masih jam 9, gue pasti mampir dan bikinin dia teh tarik. Ini udah hampir setengah sebelas malam. Ardi menurunkan gue dan Nenno di gang rumah kita. Nenno turun duluan.
"Makasih, ya... tumpangannya." Kata gue.
"Iya. Makasih juga burgernya. Disuapin pula." Balas Ardi.
"Hehe... yuk. Duluan ya.."
"Iya. Malam, Dee."
"Selamat malam, dokter Min."
Gue pun turun dari mobil dan Ardi jalan lagi menuju rumah kosnya. Aaah... Nenno masih belum masuk ke rumah. Dia malah cengar-cengir gitu. Aaaah... Jadi ikut-ikutan cengar-cengir deh. Wajah gue memerah. Mungkin malam itu telinga Ardi panas karena gue dan Nenno terus membicarakan dia, belum lagi sama Sylvia di telpon. Mau tau cerita setelah kami pamit katanya.
Sebelum tidur, gue mengulang terus lagu The Only Exception-nya Paramore di musicplayer handphone adik gue. Tuh anak udah tidur nyenyak, jadi dia nggak akan mencari-cari hp-nya.

I've got a tight grip an reality, but I can't let go of what's in front of me here... I know you're leaving in the morning when you wake up... leave me with some kind of proof, it's not a dream.... you are the only exception...

Jumat, 08 April 2011

Teh Tarik - Chapter 9

Sesuai perjanjian with my silly brother, pagi ini gue yang mengirim makanan dulu. Nanti malam barulah dia. Dan seperti kemarin, kostan Nino yang terakhir. Nggak ada yang spesial di dua tempat kost lain. Kebanyakan sih gue nggak kenal dan mereka nggak pernah ngajak ngobrol atau menyapa gue.
Hari ini warungnya libur dan para koas itu sepertinya juga  agak santai karena nggak perlu apel pagi di lapangan. Saat gue sampai tempat Nino, rumah kostnya lebih sepi dari kost-kost yang lain. Cuma Mas Peno yang sedang asyik merapikan halaman depan, menyirami bunga dan tanaman-tanaman yang lain.
"Pada belum bangun, ya, Mas?" Tanya gue ke Mas Peno sambil memandang berkeliling.
"Iya, tapi nggak semua, Mbak. Kalau mas Nino sih pasti bangun siang."
"Oh... saya ke dalem dulu, ya."
"Iya, Mbak...."
Sepi sekali. Gue celingak-celinguk melihat ke lantai atas. Jangan-jangan si Ardi masih molor, tapi ya nggak mungkinlah. Ini makanan gue taruh aja deh di atas meja., nggak usah ditata. Hmm... pulang aja deh kalau begini. Agak kecewa, because I really want to see Ardi. Mau jitak dia karena semalam udah membuat gue nggak bisa tidur cepat.
"Neng..!!" Suara Ardi. Gue menoleh, mengalihkan pandangan ke lantai dua, tempat suaranya terdengar... dan ternyata Ardi ada disana. Gue otomatis tersenyum.
"Mau kemana?" Tanya Ardi lagi.
"Pulanglah. Masa mau disini. Ngantuk. Semalam ada yang bikin gue nggak bisa tidur." Nyindir nih ceritanya. Ardi pun turun.
"Hehehe... nge-teh dulu, yuk. Teh tarik. Kemaren gue minta beliin mas Peno susu cair. Bikinin dong..."
"Bikin sendiri aja. Kan udah sering lihat gue bikin teh tarik. Payah nih, Dokter Min."
"Ya udah. Tapi minumnya temenin. Masih pada molor yang lain. Yuk..." Dia sekarang berdiri di depan gue. Rambutnya belum diatur, sepertinya baru selesai mandi. Terlihat segar sekali.
"Gue yang bikin deh, ya?" Kata Ardi.
"Tumben..."
"Nanti harus dinilai. Ayo sini...!" Ardi tiba-tiba menarik tangan gue dan membawa gue ke dapur. Jantung gue berdegup nggak karuan. Kontak fisik pertama di antara gue dan Ardi. Gue memandangi tangan kita. It feels right... terlihat sangat pas dan indah. Dia menarik salah satu kursi di meja makan, lalu mendudukkan gue disitu. 
"Please jangan kabur..." Katanya.
"I won't. Asal jangan dikasih racun."
"Haha kalau lo keracunan, gue akan rawat lo sampai sembuh. Tenang aja." Katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ih, kedip-kedip kayak om-om genit."
"Hahaha... bentar ya..." 
"Cepet. Keburu disuruh pulang nanti gue..."
"Iya. Eh, Dee... gue lagi suka The Only Exception-nya Paramore, nih." Kata Ardi tiba-tiba. Gue kaget.
"Me too. Liriknya bagus."
"Iya. Karena itu dan karena pas banget sama gue."
"Emang baju? Pas?"
"Haha... elo kalau masih pagi begini lebih kocak, ya?"
"Nggak. Cuma cranky aja gara-gara kurang tidur. Lo berangkat jam berapa sih nanti?"
"Jam delapan kurang."
Nggak lama kemudian, Ardi selesai. Dia meletakkan segelas teh tarik pakai es di hadapan gue. Hmm... kelihatannya enak. Dia juga bikin untuk dirinya sendiri dan kemudian duduk di bangku sebelah kanan gue.
"Ayo coba." Katanya.
"Yakin nggak ada racunnya? Nggak bikin gue sakit perut, kan?"
"Coba dan buktikan..."
I'm just playing around sih sebenarnya... hehehe... Gue menyeruput teh tarik buat Ardi akhirnya... Enak. Tapi gue menunjukkan mimik wajah yang biasa aja.
"Enak nggak?" Tanya Ardi.
"Cobain aja punya lo sendiri." Kata gue sok ketus. Ardi terlihat kaget. Takut teh tarik buatannya nggak enak.
"Emmm... Ah... payah, nih. Kayaknya tadi gue bikinnya udah bener, deh." Ardi berdiri dan mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. What?! Jadi ini teh tarik instant. Gue melongo.
"Sialan. Bukan bikinan elo ini, mah... Udah, ah."
"Hehehe... kan tetap aja gue yang bikin, Dee."
"Gue pulang ah. Merasa ditipu gue."
"Eh, mubazir. Abisin dulu."
Ehem... dia tahu kelemahan gue terhadap makanan dan minuman. Harus dihabiskan, karena akan mubazir kalau enggak. Akhirnya gue habiskan teh tariknya, tandas lalu berencana langsung pergi dari sana. Nggak bisa lama-lama, karena gue tau sebentar lagi Ardi juga akan berangkat.
"Gue balik, ya. Sana berangkat. Ditunggu pasien, Dokter Min." Kata gue siap-siap bangkit dari kursi. Dia tersenyum. Malu kalau digodain begitu.
"Eh, bentar deh."
Gue nggak jadi berdiri dan memandang dia dengan penasaran. Mau ngomong apa lagi dia? Dan semuanya terjadi begitu saja. He kiss my cheek, my right cheek. Agak lama sampai membuat muka gue terasa panas. Pasti merah.
"Maaf, ya semalam." Katanya dengan sangat manis. Manis banget. Ini anak kesambet setan apa. Gue perhatikan, wajah Ardi juga memerah.
"Ah... Iya..." Jawab gue setengah merasa linglung. Rasanya kayak baru dihipnotis. Lalu, seperti adegan di film-film, terdengar alunan lagu The Only Exception-nya Paramore. Gue merasa heran sesaat, tapi ternyata itu bunyi handphone Ardi.
"Gue pulang ya..."
Ardi memberi isyarat 'tunggu sebentar' dengan telunjuknya. Dia menjauh sebentar untuk menjawab telponnya. Kayaknya bakalan agak lama. Gue memutuskan untuk tetap pulang. Pelan-pelan gue berbalik dan berjalan ke arah pintu. Tapi tiba-tiba Ardi memegang tangan gue, menahan gue untuk pergi. Ah, sial. Ini orang kenapa sih? Satu meter lagi gue sampai pintu padahal. Ardi masih mengobrol di telpon. Sepertinya sedang bicara dengan dokter seniornya. Dia menggenggam tangan gue erat banget. Gue merasa seperti ada sesuatu dari genggaman tangan itu yang pelan-pelan menjalar naik ke seluruh tangan gue, lalu ke jantung sehingga membuatnya berdetak lebih kencang, lalu lanjur menjalar ke perut, membuatnya merasa dikelitik. Wajah gue memerah lagi, makin lama makin merah. Ditambah lagi si Ardi kadang memandang mata gue. Tatapan yang belum pernah gue lihat sebelumnya dari dia: tajam, tegas, dan dewasa tapi terasa nyaman. Seolah menyiratkan kalau dia akan melakukan apa aja untuk gue. Wah, gue mulai berhalusinasi.
"Oke. Terimakasih, Dok. Have a nice trip..." Kata Ardi pada orang di sebrang telpon. Hmm... apa udah selesai telponnya?
"Apa?" Tanya gue setelah Ardi menjauhkan handphonenya dari telinganya.
"Aah... umm..."
"Lah, gagap, Dokter Min?"
"Hehe... umm... nggak apa-apa. See you when I see you..." Katanya lembut, lalu dia melepas tangan gue. Hih, gue kira mau ngapain tadi dia nahan gue kayak tadi.
"See ya, Dokter Min." Gue tersenyum dan berbalik.
Kali ini gue sukses keluar dari rumah, lalu pulang. Sepanjang jalan, gue memegang pipi kanan gue. He kissed me? Am I just had daydreaming or what? Ahh... paling juga memang kebiasaan dia. Peluk atau cium sebagai tanda terimakasih atau minta maaf, lifestyle mungkin. Tapi sumpah, saya nggak biasa seperti ini. Yang boleh peluk atau cium saya cuma pacar. Tidaaaak... Loh?! Hehe... tapi kenapa daritadi gue senyum-senyum melulu? Kenapa dari tadi rasa menggelitik di perut masih ada? Kenapa wajah gue masih terasa panas? Dan kenapa jantung gue berdetak lebih cepat daripada biasanya?
Ada sms masuk begitu gue sampai kamar.

"Eh, nggak marah kan, Dee? Maaf kalau gue lancang udah nyium pipi lo."

Gue cuma membalas dengan emoticon senyum. Dia sms lagi.

"Ih, teh manis mah gitu. Gue dimaafin ka, neng? Semalem udah bikin lo nggak bisa tidur?"
"Iya susu. Bawel nih. :p"
"Hehe... thanks ya, teh manis. Gue berangkat dulu.."
"Selamat bekerja dan belajar, Dokter Min... :)"
"Thank you, neng teh manis. :)))"

Ngeselin. Masih ya manggil gue 'neng'?! Hahaha... gue tertawa sendiri mendapati diri gue kesal tapi malah senyum-senyum. Hoaahmm... I need more sleep.
Okay, gue tau kalau ini mimpi. Ardi mencium gue... bukan di pipi, tapi kali ini di bibir. Huaaa... what a dream. Sepertinya gue naksir beneran sama dia.

Tidur sebentar, terus bangun, mandi (lagi) dan pergi ke Kemang untuk ketemu sahabat-sahabat gue. Kalau bersama mereka, waktu terasa cepat. Sebenarnya nggak mau pulang, tapi udah jam sembilan malam. Udah kenyang abis makan pecel ayam yang ada di depan radio kesayangan kami itu.
Curhat-curhat dan saling meledek. Hahaha... selalu menyenangkan kalau bersama mereka. Sayangnya, Odiee sedang ada di Medan dan Nenno nggak bisa ikut. Gue pun pulang. Capek... Hoaahm... Ngantuk parah. Heran. Giliran weekend, gue gampang banget ngantuknya. Mandi, langsung tertidur begitu menyentuh kasur.
Malam itu gue mimpiin Ardi. Rasanya kok gue kangen banget ya sama dia? Gue terbangun lagi. Ahh... setelah dipikir-pikir, hari ini gue sama sekali nggak berhubungan sama dia via sms atau telpon, atau ketemu pun juga enggak. Gue ambil handphone di tas. Loh, kok mati? Bareteinya abis kayaknya. Okay, di-charge dulu. Hmm... tapi kok nggak berfungsi juga meski udah di-charge. Nggak ada tanda-tanda baterei handphone ini terisi. Mampus! Mati HP gue. Di charge juga nggak ada gambar baterei di layarnya. Sial. Nggak punya HP deh gue sekarang. Totally!! Kalau online masih bisa pinjem HP adik gue, tapi untuk sms dan telpon juga nggak bisa. Fuck up. Marah awalnya... tapi ya udahlah. Besok aja dipikirinnya. Sekarang tidur dulu.

Kamis, 31 Maret 2011

Teh Tarik - Chapter 8

Hari ini, kost-kostan Bu Bestari sengaja dilewati dulu. Biar jadi yang terakhir diantar makanan aja supaya gue bisa kasih Ardi memory card yang gue janjikan waktu itu. Begitu masuk halaman rumah, gue merasa aneh. Deg-degan. Haduh... Itu ngapain sih si Pak Min dan Mas Peno ngobrol di teras yang ada di depan kostan. Sumpah, gue grogi.
"Hai... Dokter Min." Sapa gue ke Ardi yang sedang memangku laptopnya. 
"Hei... makanannya apa?" kata Ardi.
"Lihat aja di dalem. Permisi ya..."
Gue langsung melewati mereka dan masuk, langsung menuju ke meja makan. Disana ada Amir yang sedang minum teh bersama Paulus.
"Eh... Ada Dee." Sapa Amir.
"Laper nih... Ayo cepet, hehe." Kata Paulus, kelihatan sumringah. Kayaknya dia udah menunggu dari tadi jatah makan malamnya. Gue pun menata makanannya di meja makan seperti biasa. Begitu Ardi masuk, jantung gue berdegup kencang sampai tangan gue agak gemetaran. Payah ini, Dee..
"Mau bikin es teh nggak nih? Ada kan ya es sama teh disini?" Kata gue menawarkan.
"Ada, Dee..."
Ardi membantu gue mencari keperluan untuk membuat teh manisnya. Again, he is sooo helpful. Bikin grogi aja. Anak kost yang lain udah pada mulai makan. Gue menyisihkan satu porsi untuk Nino.
"Mbak, itu buat mas Nino?" Tanya Ma Peno.
"Iya."
"Mas Nino tadi bilang buat saya aja. Dia pulang malam katanya."
"Oh, ya udah kalau begitu, Mas."
Gue tersenyum dan memberikan jatah makanan Nino ke mas Peno yang langsung dilahap. Empat orang, satu pitcher cukup sepertinyua. Oh, lima orang sama gue, berarti.
"Coba, deh. Ini enak." Gue minta susu cair yang diklaim punya Ardi, lalu mencampurnya ke dalam teh yang ada di gelas di tangan gue. Lebih manis. Sengaja... Pakai es batu, soalnya.
"Ini teh tarik. Nih coba..." Gue menyodorkan gelas itu ke Ardi.
"Umm..." Ardi terlihat agak sangsi. Ragu, akhirnya gue dekatkan bibir gelas itu di depan wajahnya, terus gue dekatin hingga akhirnya nempel di bibir Ardi dan diminumnya. Eh... tapi kok... Ardi minumnya keterusan....
"Eh... enak aja." Gue tarik lagi gelasnya, lalu gue minum habis.
"Enak, Dee. Mau lagi."
"Mana laptop lo tadi? Jadi minta lagu?"
"Sip, jadi. Bentar..."
Sambil duduk di sofa ruang tamu, gue memperhatikan cowok-cowok itu makan dan bercanda. Gue membuka laptop Ardi dan menyambungkannya ke handphone gue dengan kabel data. Hmm... si Ardi koleksi lagunya banyak berbau boyband-boyband gitu. Hehe, nggak sih... BSB dan N'Sync, plus Boyzone dan Westlife aja. Yang lainnya lagu campur aduk, tapi banyak yang agak kurang baru. Ada Bon Jovi pula. Sepertinya dia suka. My Chemical Romance pun, semua lagunya ada. Tapi dia nggak punya The Used. Payah, nih, Dokter Min.
Gue memasukkan semua lagu yang ada di memory card gue, biar nanti dia yang pilih sendiri. Baru proses transfer lagu dari memory card kedua, tau-tau Ardi udah ada di sebelah gue.
"Banyak, ya?" Tanya Ardi.
"Lagu lo jadul semua, Dokter Min, hehe. Eh, bentar ya. Kebelet nih..." Gue langsung ngacir ke toilet yang ada di dekat tangga.

Sepulangnya dari kost-kostan itu, gue merasa agak aneh. Senyam-senyum sendiri nggak berhenti... Sepertinya saya naksir sama Ardi. Hahaha... payah nih, Dee.
Begitu sampai kamar, gue langsung menyalakan radio.
"You are... the only exception..." Suara Hayley Williams mengudara. Heh?! Lagu ini membuat gue berpikir... Ardi itu oriental look, berbeda agama sama gue, ahh... gue harus membatasi perasaan gue ke dia. Harus dikontrol. Prinsip percintaan gue harus ditegakkan. Mudah-mudahan cuma sekedar suka biasa. Ya Allah, tolong Dee ya!!
Tidur gue agak terganggu malam itu. Nggak nyenyak. Senyum-senyum dan wajahnya Ardi masih memenuhi kepala gue. Oh, I got a crush on him!!

Hari-hari berikutnya berjalan sama. I really had fun with him. Setelah dinnner, we talk about musics yang gue transfer ke laptopnya, kita berdua selalu minum teh tarik made by Dee-Ardi. Hehehe...
"Cocok. Teh tarik. Teh plus susu." Kata Destu setiap saat, diulang setiap hari kalau dia melihat kita sedang ngobrol di ruang tamu.
"Maksudnya?" Tanya gue saat pertama kali sadar kalau Destu sudah mengatakan hal itu berulang-ulang.
"Dee itu kan kayak teh... coklat, hehe. Kalau Ardi kayak susu karena dia putih. No offense ya, Dee, hehe."
"Haahahaha.... teori yang aneh. Ya nggak mungkinlah jadi teh tarik. Tapi gue teh manis, kan?" Kata gue sambil menjulurkan lidah.
Ya iya dong... gue dan Ardi pasti cuma akan jadi seperti ini. Bukan karena gue mau, but because I know who I am. Kasarnya, gue tau diri. He's dropdead adorable. Gue? Jauh... jauh... jauh banget. Gue nyaman dengan kedekatan ini. Lagian, dia juga kan pasti akan pindah rumah sakit. Namanya juga Koas. Kecuali kalau dia menawarkan (berarti dia gila) untuk pacaran, baru deh akan gue sambut dengan tangan terbuka... (mikir...)

Sabtu ini gue ada gathering Oz Club dan hari Minggunya akan melihat Backalley di salah satu rooftop sebuah mall yang juga merupakan foodcourt outdoor. Weekend ini tugas gue mengantar katering anak-anak kost selesai sudah. Well, apa Ardi akan menjauh juga? Nggak tau lah.
Friday, I stay a little but longer at this living room...
"Handphone lo apa sih, nih?" Tanya Ardi.
"Handphone katro, Dokter Min. Ini made in India." Jawab gue. Handphone ini udah dua kali diservis.
"Nokia kok India?"
"Iya... Makanya jelek. Lagi ngumpulin duit buat beli yang baru."
"Umm..." Dia pencet-pencet.
"Ngapain sih? Nggak ada lagu baru."
"Enggak. Bukan lagu baru. Minta nomor telponnya."
Dia bicara begitu tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone gue. Wajah gue memanas. Daripada salting, gue pura-pura ngotak-atik laptop dia yang di atas meja aja. Gue duduk di lantai seperti biasa, bersila. Dia duduk di sofa. Handphone Ardi yang ada di meja bunyi dan bergetar. A simple incoming call tone.
"Nih..." Katanya seraya mengembalikan handphone ke gue. Gue cek panggilan keluar.
"Ini nomor lo yang belakangnya 385?"
"Iya. Di save dong. Lupa tadi."
"Sip, dokter Min."
"Ih, tetep ya? Kenapa nggak Ardi aja?"
"Ih, suka-suka gue. Hp-hp gue."
"Sssshhh.... dasar, teh manis."
Geez....! Tiba-tiba Ardi melempar stabillo ke gue. Dokter gila. Sama perempuan kok kasar.
"Dokter Min nggak gue bagi lagu kece lagi, lho."
"Haha, iya. Maap. Galak amat sih, neng."
"Don't call me that way. I hate it!"
"Iya, neng."
Sekarang gantian gue yang melempar stabillo itu ke Ardi. Tepat kena badannya. Rasakan pembalasanku! Handphone gue berbunyi. Telpon dari nyokab. Wa wa wa... nggak sadar kalau udah setengah sepuluh malam. Sial. Waktu cepat berlalu kalau dihabiskan sama orang yang kita suka. And now, he's playing as a gentleman. Maksa nganter gue pulang paling nggak sampai dekat rumah. Okay, kali ini gue menurut. Toh, gue akan jarang, atau nggak akan pernah lagi, ada disini sampai malam... tanpa alasan. I mean, besok-besok kan yang anter makanan adalah adik gue lagi. Beside that I'm tired, selama dua minggu ini udah hampir setiap hari gue kurang tidur.
"Tidur ya, neng. Kucel banget tuh mukanya, hehe..."
Sms pertama dari Ardi. Malam ini, 21 Mei 2010 pukul 10.12 PM. Hehehe...
"Iya, Pak Min. Dari dulu juga kucel muka gue. Stop calling me 'neng', please."
"Goodnite, neng... :p"
Sial. Nggak gue bales. Langsung merem. Huaah... capek banget hari ini, Tuhan. Ehh... handphone bunyi lagi.
"Cihuy... ngambek. Apa udah tidur? Hmm..."
Ahh... mau bales. Tapi nggak usahlah. Tapi godaannya besar sekali. Sial. Ahh... jadi nggak tidur-tidur ini mah. Handphone gue kali ini berdering keras. Ardi telpon. Atau cuma missed call? Tapi kok agak lama ya?
"Hmm... halo?" Akhirnya gue angkat. Nggak tega dan nggak kuat.
"Eh, gue bangunin elo ya, neng? Maaf."
"Hmm... gue tidur ya. Lo juga gih. See you.."
"See you..."
Huffttt..... sekarang malah nggak bisa tidur. Sial tuh anak. Gue berguling kesana-kemari, nyalain TV tapi nggak ada acara yang menarik. Akhirnya gue putuskan untuk dengerin radio. Eh, nggak ada acara lucu favorit gue kalau hari Jumat begini. Music player aja kalau begitu.
Melamun dan tersenyum-senyum sendiri karena mengulang apa yang pernah gue alami bareng Ardi. Ada yang terasa berdesir di bagian hati waktu ingat gue pernah pegang salah satu bagian wajahnya. Bisa nggak ya, itu terulang?
"Tanggung jawab. Gara-gara elo telpon, gue jadi nggak bisa tidur." 
Sms yang akhirnya terkirim, tapi lama banget nggak ada balasan. Berulang kali gue melihat ke layar handphone... but still, no sms. Sampai akhirnya gue ketiduran... dengan  ear phone masih terpasang.

Selasa, 29 Maret 2011

Teh Tarik - Chapter 7

Akhirnya gue jadi ke Gramedia Matraman hari Sabtunya. Minimal beli satu buku. Maksimal dua. Kalau komik... sebanyak-banyaknya! Hehe... Gue pergi sendiri karena lebih enak begini. Nggak ada yang ganggu dan gue bisa berada disini selama yang gue mau. Setelah makan siang, gue berangkat. I put on my music player so I can enjoy the journey. Gue jalan kaki dari rumah kurang lebih 2,5 kilometer, lalu naik busway. Oh iya, sebelum Maghrib harus udah di rumah, ding. Lupa.
Odiee sms, minta ketemuan di Gramedia. Dia mau meminjami gue buku-bukunya Sitta Karina. Asik! Banyak stok buku yang mau dibaca. Senangnya... Anak itu datang saat gue udah menghabiskan beberapa komik Kungfu Komang sambil duduk di pojokan rak-rak bagian komik. Komik favorit gue, nih. Rekomendasi dari teman gue di Oz Club, Ryad. Gue ngakak sendirian dari tadi. Begitu Odiee datang, dia langsung memeluk gue. I kiss her cheeks... I miss her a lot. Sibuk sekali dia dengan segala ini-itu yang berhubungan dengan persiapan masuk perguruan tinggi-nya.
"Makan yuk, Dee. Laper nih belum makan dari pagi sejak keluar rumah tadi." Ajak Odie.
"Masih kenyang. Tapi yuk, ditemenin."
"Udah beli Negeri Lima Menara-nya?"
"Belum. Kamu mau beli bukunya juga?"
"Nggak. Duitnya buat bayar macem-macem."
"Ya udah, nanti aja deh gue belinya. Isi dulu perutnya. Yuk! Mau cerita, kan?"
"Hehe... iya."
Gue rangkul Odiee dan kita pergi ke restoran fast food yang ada di samping Gramedia itu. Kita duduk di bagian paling memojok. Odiee menghadap gue dan di belakang gue tembok. Jadi, posisinya bisa bersandaran. Takut Odiee tiba-tiba nangis pas cerita, jadi posisinya dibuat seperti ini.
Odiee bercerita tentang semua test yang dia ikuti, plus persiapan dan rencananya ke Medan besok. Tiga minggu liburan. Nggak tanggung-tanggung. Dan saat bagian dimana cerita tentang ayahnya mengalir, Odiee mulai berkaca-kaca. Agak sedih dengarnya. Sometimes, keinginan orangtua agar anaknya sekolah ini-itu sesuai keinginan mereka memang bisa dibenarkan. Menurut gue nggak masalah kalau anaknya suka, tapi kalau anaknya nggak suka tapi dipaksa? Akhirnya masuk tapi nggak niat? Di tengah jalan drop out? Lebih baik kasih anaknya pilihan, diskusi, komunikasi, dan mau saling mendengarkan, bukan? Itu aja sih yang kurang dari Papa-nya adik kecil gue yang satu ini. Yah, mudah-mudahan semua cepat teratasi. Sekarang sih, mendingan si Odiee having fun aja. Liburan ke Medan dan ketemu keluarganya disana sepertinya menyenangkan. Apalagi keluarganya yang di Jakarta nggak ikutan.
Menurut penilaian gue, Odiee adalah anak perempuan idaman. Dia anak tertua dengan tiga adik-adik cowok. Bisa membantu kerjaan rumah apa aja: Masak, ngepel, nyapu, nyuci baju, setrika, apapun pekerjaan rumah, dia bisa lakukan. Di bidang akademik pun gue yakin kemampuannya nggak usah diragukan lagi. Odiee juga suka banget dengan hal-hal yang berbau gerakan go green. Wawasannya luas dan banyak banget yang bisa dibanggakan dari anak perempuan yang satu ini. Tapi entah kenapa sang Papa nggak bisa melihat hal itu. Gue pernah bilang ke dia, mungkin si Papa diberikan sifat seperti itu nggak lain adalah untuk melatih Odiee untuk sabar. Cobaan yang Allah kasih untuk memperbanyak pahala sabarnya dia. Kalau nanti Odiee tetap memilih masuk UI (Papanya mau dia masuk STAN), cuma satu pesan gue, belajar sungguh-sungguh sebagai pembuktian diri.
Setelah sesi curhat selesai dan Odiee udah kenyang, kita berdiri. Gue peluk dia dan mengelus punggungnya dengan sayang. Cuma itu yang bisa gue lakukan. Mudah-mudahan hal kecil ini cukup membantu. Kemudian kita masuk lagi ke Gramedia. Tadi belum sempat cari buku Negeri Lima Menara-nya. Odiee sih mau lihat-lihat doang. Harus irit soalnya, supaya bisa membeli oleh-oleh sepulang dari medan. 
"Eh, ada tukang pisang!" Hah? Tiba-tiba terdengar suara yang cukup familiar di telinga gue. Gue refleks nengok dan orang yang barusan bersuara udah ada di sebelah gue. Songong bener. Gue kaget karena ternyata yang berdiri disamping gue adalah Destu. Dia nyengir seperti biasa.
"Kok ada disini?" Tanya gue
"Kayaknya ini tempat umum deh." Katanya dengan nyeleneh.
"Oh, iya sih. I thought you have stalked me." 
"Hah, gue nggak mungkin lah. tapi, kalau yang itu...... mungkin!" Destu menunjuk sebuah sudut dan disana ada Ardi, sedang melambai sambil tersenyum. Dia berjalan kearah gue dan Destu. ASTAGA... kenapa hari ini dia terlihat sangat charming?
"Hei..." Kata Ardi begitu berdiri di depan gue.
"Hei... eh iya. Ini kenalin teman gue." Gue memperkenalkan Odie ke mereka. Odiee, Destu, dan Ardi pun saling berjabat tangan, berkenalan. Gue lihat Ardi membeli buku cukup banyak.
"Buku pelajaran?" Tanya gue sambil menunjuk ke bawaannya.
"Iya nih. Elo?"
"Nih..." Gue menunjukkan novel Negeri Lima Menara yang ada di tangan gue. Belum dibayar.
"Ohh... another novel. Eh, tadi Nino telpon. Mobilnya mau dipakai. Terus buku yang lo cari gimana?" Tanya Ardi ke Destu.
"Gue cari di Kwitang, deh. Lo pulang aja bawa mobilnya. Ntar gue naik busway. Dee... udah mau pulang?" Destu beralih ke gue.
"Iya. Abis bayar ini, pulang."
"Ya udah. Bareng aja sama Ardi."
"Hah?"
Sumpah gue kaget. Kenapa Destu yang gatel? Ardi dan Destu saling berpandangan.
"Emang nggak apa-apa?" Tanya gue ragu.
"Nggak apa-apa, kok. Ya kan, Di?" Kata Destu seraya menyentuhkan bahunya ke bahu Ardi. Wajahnya jahil.
"Eh, iya nggak apa-apa. Sekalian aja." Kata Ardi.
"Ya udah kalau begitu. Odiee gimana?" Gue memandang Odiee.
"Aku mau pulang, kok. Mau packing." Katanya.
"Oh, ya udah. Keluar bareng nggak?"
"Aku mau cari pensil warna buat Yama dulu."
"Oh, ya udah. See you. Have fun di Medan. Ugh... I'm gonna miss you."
Kissing each other cheeks dan berpelukan. Destu juga masih disini dulu sebentar. Cari pulpen katanya. Canggung, gue dan Ardi jalan berdua meninggalkan mereka. Ke kasir dulu untuk bayar buku-bukunya.
"Yuk..." Kata gue setelah bayar. Ardi mengangguk. Aduh, sumpah ya... Kenapa gue jadi salah tingkah begini toh? Payah.
"Dari jam berapa disini?" Tanya Ardi.
"Eh... oh... dari jam berapa, ya? Jam dua belasan lah." Jawab gue.
"Naik apa?"
"Naik busway sendirian."
"Loh, tadi temannya?"
"Ketemuan disini. Rumah dia di Tanjung Priuk."
"Oh... berani banget ya, Lo, jalan sendirian."
"Udah biasa kemana-mana sendirian. Baik punya pacar ataupun enggak..." Ehh... kenapa gue ngomong begitu? Too much information deh, Dee.
"Ohh... wanita mandiri." Dia nengok dan tersenyum ke gue.
"Sort of..." Gue tersenyum balik.
"Your English is good, Dee. Sekolah apa dulu?"
Dan kita pun membicarakan background pendidikan gue selama berjalan ke parkiran mobil. Ardi cukup kaget karena gue cuma belajar bahasa Inggris di sekolah dan dari musik, tapi kemampuan bahasa Inggris gue lumayan bagus. Padahal dia kira gue ikut kursus or something. Aah... biasa aja kok, Pak Dokter. Hahaha...
Gue suka musik, apalagi kalau ada lagu-lagu bagus dan enak didengar yang berbahasa Inggris. Biasanya akan gue tebak-tebak dulu liriknya, setelah itu baru cari lirik yang benar di internet. Kalau gue temukan kata-kata baru, pasti gue cari tahu artinya dan gue catat di notes gue.
He's being sooo nice. Tadi saat gue mau masuk mobil, Ardi membukakan pintunya. Mobilnya Nino, Yaris warna hitam. Tadi gue sempat tanya, mau dipakai kemana mobilnya sama Nino. Dia bilang, kayaknya Nino mau nonton sama temannya.
"Oh iya... mau dengar radio? Berapa gelombang yang sering didengar itu? Oz?" Tanya Ardi.
"90,8 FM." Jawab gue. Pasti Ardi tahu karena sering ke warung. Tangannya mengutak-atik radio player. Gue agak tersentak karena saat dapat gelombangnya, lagu pertama yang kita dengar adalah lagunya Backalley, Somewhere Someone. I love this song sooo much. Dan tanpa sadar gue menggerakkan jari-jari gue, mengikuti irama, gue ketuk-ketukkan jari-jari gue di paha dan bernyanyi pelan.
"Yang nyanyi siapa, Dee? Keren. Judulnya apa?" Tanya Ardi tertarik.
"Ini band teman gue, Backalley. Judulnya Somewhere Someone."
"Teman lo? Gue kira band luar."
"Banyak yang bilang begitu. Mereka band Indie. You must listen to all their songs. Mereka juga meng-cover lagu-lagu dari musisi luar. Bizzare Love Triangle-nya Frente. Mau dengar, nggak?"
"Boleh..."
Gue ambil handphone, mengecilkan volume radio di mobil itu, dan mencari lagu Backalley yang gue maksud. Gue keraskan volumenya, lalu gue letakkan handphonenya di tempat kecil dimana biasanya ditaruh uang receh disitu, di antara kursi gue dan Ardi. Kita mendengarkan lagu itu...
"Enak, Dee... Keren." Kata Ardi.
"Kalau mau, nanti gue bluetooth atau gue pinjami CD mereka."
"Boleh... tapi transfer ke laptop gue aja. HP gue penuh kayaknya."
"Sip sip..."
"Ini band teman lo, berarti lo suka lihat mereka tampil? Pernah?"
"Sering banget. Setahun belakangan ini nonton terus malah. Kenal banget sama vokalisnya soalnya. Dia kerja di Oz Radio."
"Oh, pantesan kenal."
"Eh, kenapa ya, Di, tiap kali gue manggil lo, gue berasa manggil diri sendiri?" Kata gue random.
"Haha... masa sih?"
"Iya. Gue panggil lo yang lain aja ya? Uuummm... Pak Min? Hehe... Dokter Min."
Ardi tiba-tiba tertawa ngakak tanpa memberi jawaban. Gue memandang dia dan baru sadar kalau di rahang kirinya ada luka bekas jahitan yang lumayan panjang. Sepertinya luka lama. Dia sepertinya sadar kalau gue perhatikan. Hidungnya mancung banget kalau dari samping.
"Heh? Ngelihatin apaan sih? Bekas luka gue ya? Pasti takut? Anak kecil aja takut." Katanya tiba-tiba.
"Hah? Enggak. Lo pikir gue anak kecil, Dokter Min?"
"Hahaha... sounds weird."
"Apanya? Maksudnya lo pikir gue emang masih kecil?"
"Bukan. The way you just called me."
"Oh, hehe... Umm... Can I... umm... touch it? Pengin tau aja, eh itu juga kalau lo nggak keberatan."
"Pegang aja kalau berani." Katanya.
Agak ragu-ragu, tapi tangan gue terulur. Pelan-pelan semakin dekat ke wajahnya, lalu akhirnya tersentuh juga. Ardi sepertinya juga menahan napas seperti gue. Just curious, nggak lebih. Jantung gue agak berdetak kencang dan wajahnya panas. Dielus-elus aja.
"Jatuh atau kenapa?"
"Pas masih kecil, kebut-kebutan naik sepeda sama teman-teman sekomplek, terus jatuh. Jadinya begini, deh. Udah observasinya?"
"Eh..."
Omongannya membuat gue sadar kalau tangan gue masih ada di wajahnya. Buru-buru gue tarik tangan gue dari wajahnya. Aduh... gue memalingkan wajah ke kiri, melihat jalanan. Tambah panas wajah gue.
"Nggak takut kan sama gue setelah lihat dan pegang bekas lukanya?" Tanya Ardi.
"Masa begitu aja takut? Aneh."
Gue jadi tahu banyak tentang Ardi hari itu. Disini dia tinggal sama sang Oma yang punya rumah di BSD, kuliah di Pelita Harapan, anak satu-satunya, orangtuanya di Surabaya, dan... hmm... sama-sama orang Jawa. I talk about music a lot. Sepertinya dia kurang update dengan musik-musik baru dan cuma tahu yang sedang popular aja. Gue kasih tahu beberapa musik Indie Indonesia yang keren, seperti Dzeek, Zeke and the Papa, White Shoes, Goodnite Electric, The Trees and The Wild, banyak lah pokoknya.
"Give me all your memory cards, I'll copy it to my laptop." Katanya.
"I will... Gue punya tiga memory card, masing-masing satu giga. Ada sih yang double lagunya. Ntar kalau ada yang nggak suka, tinggal hapus. Listen to Melee. You're gonna love their music."
"Kasih tahu terus yang bagus-bagus..."
"Sip...!"
I really had fun. Senang banget sampai agak kecewa karena udah sampai rumah. Gue turun di depan gang rumah, bilang terima kasih lalu berbalik pulang. Cepat. Harus nganterin makanan ke kost-kostan which is ketemu Dokter Min lagi! Eh... kenapa gue seneng banget ya mau ketemu dia lagi? Padahal barusan juga gue ketemu, hehe. Wajah gue panas...