Sejak kapan kamu cemburu?
Pertanyaan kedua ini kembali membuat Ra terdiam.
Cemburu kepada siapa? Adinda?
Benarkah aku cemburu akan kehadiran nya?
Well, kehadiran yang tidak
langsung sebenarnya. Karena Ra hanya kenal Dinda, panggilan Adinda,
melalui cerita-cerita Kai. Dan dari beberapa komentar di media sosial
Kai apabila Dinda tiba-tiba hadir. Bisa di Facebook ataupun Path.
Kalau mood yang tiba-tiba berubah karena Ra tidak sengaja melihat
komentar-komentar Dinda difoto ataupun status yang dibuat Kai di medsos
nya.
Kalau tiba-tiba Ra tidak melanjutkan makan bakso kesukaan nya di kantin
kampus karena Kai menyalakan laptop dan langsung Skype-call dengan
Dinda.
Kalau tiba-tiba dada Ra sesak setiap Kai menyebut nama Adinda Maheswari
di depan nya dengan wajah berbinar.
Kalau itu semua tanda bahwa Ra cemburu?
Ra bisa apa?
Dinda yang dia tahu, atau yang dia anggap diri nya sendiri tahu, adalah
perempuan ayu berdarah Jawa yang pintar.
Siapa yang tidak jatuh cinta kepada perempuan yang bisa dapat beasiswa
ke Jerman selama 3 tahun itu?
Perempuan yang terlihat bebas karena senang berpetualang ke pantai mana
saja di Indonesia. Kai bilang baru setengah dari 50 pantai terbaik di
Indonesia didatangi oleh Dinda sebelum akhirnya dia harus ke Jerman
untuk kuliah.
Siapa Ra kalau dibandingkan dengan Dinda?
Tampilkan postingan dengan label RainaKairo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RainaKairo. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Maret 2017
Raina-Kairo (Menunggu)
Sejak kapan kamu menunggu?
Raina terdiam karena pertanyaan itu.
Entah sejak kapan dia merasa Kairo harus selalu ada di samping nya setiap waktu.
Karena selain itu selalu ada kosong terdeteksi di dada nya.
Bukan karena setahun ini mereka dekat, ah, mungkin memang itu.
Tapi dia tahu Kai tidak akan pernah berhenti menunggu perempuan lain yang sedang menuntut ilmu di Jerman.
Perempuan yang adalah cinta SMA Kairo dulu.
Yah, mungkin sampai sekarang.
Mereka memang sering menghabiskan waktu bersama, di mana ada Kai, pasti di dekat nya Ra ada.
Sejak seminggu yang lalu Ra baru menyadari kalau sekarang dia memandang Kai sebagai laki-laki, bukan sebagai teman berwisata kuliner nya tiap habis kuliah.
Bukan sebagai samsak kalau Ra sedang badmood.
Bukan sebagai tukang antar-jemput ke mana pun Ra butuh.
Bukan sebagai Kai yang konyol dan selalu membuat Ra tertawa.
Dia memandang Kai sebagai tempat nya mencari motivasi. Memandang Kai sebagai tempat nya mencari inspirasi tulisan baru. Memandang Kai sebagai tempat nya bersandar, literary bersandar karena punggung Kai adalah tempat ternyaman buat Ra.
Walau cuma saat mereka berboncengan motor saja.
Ra baru sadar bahwa mata Kai itu hitam pekat, bukan coklat seperti yang dia duga.
Bahwa Kai tidak pernah makan tanpa ditemani kerupuk, bermacam kerupuk dia suka.
Bahwa senyum Kai selalu menyapa nya setiap pagi sebelum mereka berangkat kuliah dan setelah Ra sampai rumah kembali.
Bahwa Kai selalu berkata,
"Ra, isi otak lu banyak banget sih yg ga gue tau. Mata lu selalu berbinar kalau lu lagi cerita apapun ke gue. Full of excitement!"
Wajah Ra memerah teringat hal itu.
Raina terdiam karena pertanyaan itu.
Entah sejak kapan dia merasa Kairo harus selalu ada di samping nya setiap waktu.
Karena selain itu selalu ada kosong terdeteksi di dada nya.
Bukan karena setahun ini mereka dekat, ah, mungkin memang itu.
Tapi dia tahu Kai tidak akan pernah berhenti menunggu perempuan lain yang sedang menuntut ilmu di Jerman.
Perempuan yang adalah cinta SMA Kairo dulu.
Yah, mungkin sampai sekarang.
Mereka memang sering menghabiskan waktu bersama, di mana ada Kai, pasti di dekat nya Ra ada.
Sejak seminggu yang lalu Ra baru menyadari kalau sekarang dia memandang Kai sebagai laki-laki, bukan sebagai teman berwisata kuliner nya tiap habis kuliah.
Bukan sebagai samsak kalau Ra sedang badmood.
Bukan sebagai tukang antar-jemput ke mana pun Ra butuh.
Bukan sebagai Kai yang konyol dan selalu membuat Ra tertawa.
Dia memandang Kai sebagai tempat nya mencari motivasi. Memandang Kai sebagai tempat nya mencari inspirasi tulisan baru. Memandang Kai sebagai tempat nya bersandar, literary bersandar karena punggung Kai adalah tempat ternyaman buat Ra.
Walau cuma saat mereka berboncengan motor saja.
Ra baru sadar bahwa mata Kai itu hitam pekat, bukan coklat seperti yang dia duga.
Bahwa Kai tidak pernah makan tanpa ditemani kerupuk, bermacam kerupuk dia suka.
Bahwa senyum Kai selalu menyapa nya setiap pagi sebelum mereka berangkat kuliah dan setelah Ra sampai rumah kembali.
Bahwa Kai selalu berkata,
"Ra, isi otak lu banyak banget sih yg ga gue tau. Mata lu selalu berbinar kalau lu lagi cerita apapun ke gue. Full of excitement!"
Wajah Ra memerah teringat hal itu.
Langganan:
Postingan (Atom)