Sabtu, 25 Maret 2017

Tidak Ada Senja Sore Ini

Aku menatap langit barat
Hanya awan dan abu-abu
Senja mu tadi juga seperti itu?
Aku harap lebih indah
Biru, jingga, merah muda
Atau aku harus berbalik arah menghadap timur
Dan menjadi senja terindah mu?

Hazel Eyes

Entah apa yang menarik dari mata laki-laki di depan nya itu. Mahesa sama sekali tidak tahu mengapa dari tadi dia memandangi nya. Glen memiliki warna mata yang unik, kadang terlihat berwarna biru, terkadang hijau. Setiap laki-laki itu memandang nya kembali, dia langsung memalingkan muka karena takut Glen tahu kalau dia sedang tersenyum malu. Udara dingin yang berhembus dari pegunungan Swiss membuat nya bergidik, atau ini karena Glen? Laki-laki yang baru ditemui nya kurang dari setengah sejam yang lalu.

Paleo. (Part 3)

"Ada seseorang yang selalu nelfon ke kantor nyariin elu 2 minggu ini." ucapan Kak Nila membuat saya menghentikan kegiatan saya menjawab tweet pembaca.
Ada nada ragu dalam suaranya.
"Arga?" Cuma satu nama yang muncul di kepala.
"Dudul. Kalo dia nelpon ke kantor, gue bakal lapor polisi. Orang gila. Ninggalin elu trus sekarang giliran dia berantem sama bini nya, dia nyariin elu. Sableng."
"Bisa aja lu Kak! Trus siapa dong? Pembaca gue ga ada yang se-ekstrim itu kaya nya." Kata saya sambil melanjutkan kegiatan saya tadi.
"Elu ga inget si Deri? Yang ngirimin bunga ke kantor tiap hari selama sebulan tahun lalu? Yang ngirimin makan siang juga? Yang selalu nelpon dan minta bukti kalo makanan yang dia kirim udah lu makan?"
Saya langsung tertawa.
Yah, he just obsessed with a person who didn't exist.
"Trus siapa?"
"Gue ga tau, tapi Karla, operator kita, yang nama nya doang kaya bule, tapi ga bisa bahasa Inggris sama sekali, dia bilang kalo yang nyariin elu itu bule."
 
Hah? Jidat saya langsung mengeryit. Siapa? Belum ada novel saya yang dialihbahasa dan tidak mungkin ada seorang native tertarik untuk membaca.
 
Apa mungkin Stephan? But he knows my number. And he can reach me through it. Cuma dia teman saya yang berasal bukan dari Indonesia. Ini sudah 2 tahun semenjak saya pulang dari Swiss, makin ke sini memang komunikasi antara saya dan Stephan kurang baik. Tapi masa dia yang telpon ke kantor? Tapi kalau bukan dia, lalu siapa?

Jumat, 24 Februari 2017

Bulan Bintang Venus

Bulan, mengapa kau muncul sebelum senja berakhir? Rindu akan matahari?
Bukan begitu, bulan ingin merebut perhatian bumi dari matahari. Kata bintang-bintang.
Kalian jangan sok tahu, kata Venus.
Memang nya kau lebih tahu? Ucap bintang-bintang itu.
Tentu saja aku tahu, tapi aku yakin kalian tidak akan pernah mengerti.
Tentang cinta? Kata bintang-bintang itu.
Tentu saja. Kalian tahu mengapa bulan selalu muncul sebelum senja akhir-akhir ini? Ucap Venus misterius.
Apa? Bintang-bintang itu mendekat. Terbawa rasa penasaran.
Bulan jatuh cinta oleh mata seorang manusia yang memperhatikan nya melalui sebuah teropong.
Memandangi nya tanpa bosan setiap bulan muncul. Bersedih di saat awan jahil menutupi pandangan nya. Tersenyum di saat awan akhirnya pergi karena tidak tega.
Mereka jauh tapi saling memahami. Merindukan di saat tidak bisa bersua. Gegap gempita saat bisa saling menatap.
Kalian mengerti hal-hal menakjubkan sekaligus aneh seperti itu? Hal-hal yang hanya terjadi pada suatu waktu yang ajaib.
Mereka sebenarnya bisa bersatu kalau tidak ragu. Dia bisa menghampiri bulan. Tentu saja itu akan memakan waktu, tapi semua itu akan terasa setimpal.
Bulan bisa saja menabrakan diri ke bumi. Tentu saja semua akan berakhir, itu juga kalau bulan egois. Karena kamu tahu kenapa? Karena kalau itu terjadi, dunia ini tentu saja akan berakhir. Semudah itu.

Senin, 03 Agustus 2015

Paleo. (Part 2)

Cantik nya Swiss!
Mungkin orang-orang yang stress atau depresi bagus nya pindah ke sini. Terutama ke Nord. Atau daerah mana saja yang masih dekat dengan Alpen.
Saya lihat di line-up hari ini penyanyi internasional nya ada Robbie Williams, tapi terlalu malam. Saya takut pulang sendirian. Walau Stephan sudah berpesan, kalau butuh jemputan saya harus telepon dia.
Banyak juga panggung nya, ada 6! Keren memang Eropa kalau mengadakan festival musik. Selalu megah dan ramai.
La Grande Scène itu panggung utama, artis nya macam Robbie Williams dan Pharell. Ada lagi panggung dengan nama Les Arches. Lalu yang unik Le Club Tent, musik-musik nya kebanyakan disko. Selanjutnya ada La Ruche (the hive), Le Dôme (the Dome) dan yang terakhir panggung yang sering dipakai band lokal untuk tampil dikasih nama Le Détour.
Setelah melihat-lihat semua stage dan beli makanan, saya duduk di dekat panggung utama. Beristirahat dan menenangkan diri. Jakarta, kenapa kau tidak bisa se-menyenangkan ini?
Hhhh..karena satu orang saja Jakarta bisa sangat menyesakkan.
Telepon selular saya berbunyi.
"Cepet pulang! Lu musti ketemu sama orang ini. Biar lu tau Arga yang lu sayang2 itu cuma cowok bangsat."
Editor saya, Kak Nila, kesambet apa ini? SMS begini, bikin inget apa yang mau dilupain. Huh. Malah jadi laper.
Iya, saya nekat pergi ke Swiss sendiri karena patah hati.
Ah sudahlah. Mudah-mudahan pulang dari sini saya bisa kembali jadi diri saya sendiri.
Sandwich sub sudah habis saya makan, lalu seenaknya merebahkan diri di rumput dan ketiduran.
Nyenyak tapi ternyata cuma 35 menit saya terlelap.
Menyaksikan band entah siapa di main stage dengan duduk ternyata menyenangkan juga. Dari awal sampai selesai saya di situ. Tapi kalau terlalu lama duduk rasa nya pegal juga, setelah encore mereka bawakan, saya pun berdiri dan mulai keliling lagi.
Tertarik dengan keunikan satu gimmick di festival ini, kolam lumpur! Iya, kolam lumpur!
Saya duduk tidak jauh dari kolam lumpur itu, tidak berani lebih dekat karena memikirkan keribetan membersihkan diri kalau terkena lumpur. Ikut tersenyum karena banyak orang yang diseret ikut masuk ke kolam itu. Mungkin mereka datang bersama dan teman mereka tidak mau kotor.
Tertawa kalau ada yang berhasil diceburkan ke kolam itu setelah usaha keras teman-teman nya.
Di tepi kolam terdekat saya ada seorang cowok yang dengan riang nya masuk ke sana. Tingginya gak lebih dari 180 cm kaya nya. Memakai jeans dan kaos yang tidak lama kemudian tertutup lumpur semua. Keren nya, dia juga membiarkan wajah dan rambut nya terkena lumpur.
Saya menggeleng-gelengkan kepala tapi tetap tertawa kecil. Umur berapa pun manusia pasti tetap punya sisi anak-anak dalam diri mereka. Stephan menelepon.
"Gak, Stephan. Tidak lebih dari jam 9."
"Telepon kalau berubah pikiran."
"Siap! Thank you."
"No problem. Have fun!"
Memasukan telepon genggam ke tas kecil di pinggang. Tempat barang-barang penting. Di Eropa kalau tidak waspada bisa celaka. Saya memperhatikan sekitar dan tersadar kalau setengah meter di kanan saya ada orang yang baru saja duduk. Dia tersenyum balik waktu saya tersenyum.
"Traveller?"
Saya memandang nya lagi dan sepertinya pertanyaan itu memang ditujukan kepada saya.
"Sort of." kata saya singkat.
"Boleh?"
Dia memberikan isyarat kalau dia akan duduk mendekat. Saya mengangguk. Percaya saja kalau dia orang baik. Dia berdiri dan duduk berjarak kira-kira sejengkal di sebelah kanan saya. Setelah sedekat itu saya baru sadar dia itu laki-laki kaos-jeans yang saya perhatikan tadi.
"Bersenang-senang?" kata saya sambil tertawa.
"Selalu. Diusahakan selalu bersenang-senang."
Gigi-gigi nya rapih. Cuma gigi dan mata bagian tubuh nya yang tidak tertutup lumpur.
"Nice."
"Gak mau ikutan?" kata nya menunjuk saya dan kolam secara bergantian.
"No thanks. Saya ke sini sendiri dan hostel saya tidak di dekat sini."
"Oh begitu." dia mengangguk-angguk.
Hening.
"Are you okay?"
Pertanyaan nya bikin saya bingung. Orang asing ini seperti tahu sesuatu.
"Keliatan ya?" kata saya pasrah.
"Mata kamu." dia tersenyum.
"Kenapa mata saya?"
"Terlihat sedih."
"Really? Saya lebih percaya kalau kamu bilang kamu ini peramal."
Kami berdua tertawa. Dua orang asing yang bisa tertawa padahal baru 5 menit ketemu. Ajaib.
"Semua kejadian pasti ada hikmah nya. Memang klise tapi begitu ada nya. Hidup ini mau dibawa senang atau sedih, isi kepala kamu yang menentukan."
Menenangkan, apalagi dia terlihat tulus sewaktu bilang kalimat-kalimat itu.
"Mungkin karena masih belum bisa terima dijahatin sama orang."
Hidung saya mengernyit dan dia terseyum lembut.
"Semua yang kita lakukan di dunia ini akan berbalik pada kita cepat atau lambat. Kamu mau hal-hal baik terjadi sama kamu kan?"
Saya mengangguk dan dia melanjutkan ucapan nya.
"Nah, teruslah berbuat baik. Perbuatan jahat orang lain tidak usah dibalas, cepat atau lambat itu akan berbalik pada dia dan kamu akan lega."
Entah kenapa mendengarkan dia berbicara seperti itu saya merasa lebih tenang. Semua ucapan nya saya proses di kepala.
"Masalah cinta ya?"
Tebakan nya benar lagi.
"Kenapa?" baru kali ini dia bertanya.
"Seperti nya saya sudah berbuat yang terbaik untuk dia, tapi tetap saja.."
"Coba diingat dari awal, apa dia memang into you? Jangan ingat hal-hal yang indah-indah saja. Kamu sepertinya perempuan yang peka, yang punya feeling kuat kalau ada sesuatu yang salah terjadi."
"Iya."
Dia benar. Banyak hal yang bikin saya meragukan kesungguhan Arga sewaktu kami masih berpacaran dulu.
"Kuncinya hanya satu, laki-laki kalau sudah mencintai seorang wanita, dia akan melakukan apa saja untuk wanita nya, tanpa diminta. Kamu pasti bisa merasakan nya. Kalau dia cinta, dia akan memperjuangkan kamu. Apapun cara nya."
Semua yang dia katakan benar. Arga selalu marah kalau saya protes sewaktu saya mendapati perhatian berlebih nya ke 2 teman wanita nya.
Dia selalu marah kalau saya lihat chat bbm nya. Saya ingin lihat karena saya punya perasaan curiga. Arga selalu protes kalau saya pakai display picture foto kami berdua di bbm. Baru sekarang saya sadar saya benar. Dari dulu saya tidak yakin tapi saya pura-pura yakin. Arga tidak sesayang itu sama saya. Itu masalah nya. Kalau dia sayang, dia tidak akan melepas saya dengan mudah dan punya ban cadangan.
Angin berhembus dan baru kali ini saya bernafas dengan lega. Sudah tidak sesak lagi.
"Kamu sepertinya wanita yang baik. Kalau dia meninggalkan kamu, rugi nya ada di dia."
Dia mengedipkan sebelah mata nya dan tersenyum super manis. Menularkan nya ke saya yang sibuk mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Terima kasih...siapa? Daritadi kita ngobrol tapi saya belum tau nama kamu." kata saya sambil mengangsurkan tangan.
Dia menunjukkan tangan nya yang tertutup lumpur setengah kering.
"I don't mind." kata saya sambil menjabat tangan nya.
"Glen. Nama saya Glen."
"Gina."
Kami berdua tersenyum.
Sore yang indah di Nord. Glen sudah membuka mata saya. Orang asing yang baru saya temui tidak lebih dari satu jam yang lalu. Tuhan memang punya cara yang ajaib untuk membuka jalan bagi umat-Nya untuk menjadi lebih baik.
Thank God for Glen.

Paleo. (Part 1)

"Apa yang menarik lagi?" kata saya ke Stephan.
Pemuda Swiss itu memandangi brosur-brosur yang saya pegang. Tempat-tempat yang ditawarkan di brosur tersebut sepertinya sudah saya datangi semua.
"Uuumm..kamu masih muda. Suka musik pastinya kan?"
Saya mengangguk. Pertanyaan retorik karena dia tahu itu.
Dia memberi isyarat lewat telunjuk nya untuk menunggu sebentar lalu menghilang ke balik pintu. Ruangan tempat dia biasa menonton televisi atau membaca buku kalau tidak ada penghuni kamar hostel yang mencari nya.
Pria berumur 35 tahun itu keluar, berdiri di depan saya dan menaruh sesuatu di meja panjang yang menjadi penghalang antara kami.
Saya mengambil kertas persegi panjang itu dan membaca nya.
Paleo festival.
Terdengar familiar dan saya baru sadar kalau di beberapa tempat yang saya kunjungi di Nyon ada pamflet tentang acara ini.
"Ini tiket festival musik kan ya?"
"Iya. Tadi nya saya mau memberikan nya ke adik perempuan saya, tapi dia sepertinya tidak jadi pulang ke Nyon. Sibuk sekali dia tahun ini di Jenewa."
Festival musik nya berlangsung 6 hari dan ini tiket untuk hari pertama, selasa besok.
"Bagaimana cara nya sampai di tempat festival?"
Kami pun pindah ke ruang makan yang sudah mulai dipenuhi orang yang menginap di sini. Sambil makan malam, Stephan menjelaskan dengan detail semua jalur yang bisa saya gunakan untuk sampai di sana. Dia juga menunjukkan beberapa foto sewaktu dia dan adik nya ke Paleo tahun lalu.
Beberapa orang yang menginap di hostel ini bahkan ada yang menghadiri festival ini dari hari pertama sampai hari terakhir. Di sana banyak penjual makanan juga jadi tidak sedikit yang ada di sana sampai berhari-hari.
Stephan, dengan mata biru, muka pucat dan bibir merah tipis nya adalah orang yang sangat menyenangkan untuk diajak mengobrol. Semua informasi tentang Nyon bisa dengan mudah kita dapatkan dari nya sambil makan malam atau hanya sekedar minum kopi.
Pantas saja kalau hostel ini banyak direkomendasikan blog-blog traveller di internet. Tempat nya bersih, terjangkau dan Stephan tanpa disangkal adalah kelebihan hostel ini.
Dia tahu saya ke Nyon sendirian dan malam kedua saya duduk di ruang makan, dia menghampiri dan minta ijin untuk menemani. Mengobrol yang ringan. Saya kira dia mau marah karena kecerewetan saya tentang makanan tanpa daging babi yang selalu saya pesan, tapi ternyata tidak.

"Kenapa Nyon?" kata nya setelah saya cerita kalau ini pertama kali nya saya ke luar negeri. Sendirian pula.
Malam ketiga di Nyon. Malam kedua dia menemani saya makan.
Saya menggeleng sambil memajukan bibir sedikit. Entahlah.
"Random?"
"Mungkin. Atau mungkin saya ingin menjadi presiden UEFA selanjutnya. Mungkin saya bisa jadi ketua UEFA perempuan yang pertama."
Kami tergelak menertawakan hal yang mustahil. Dia tahu saya tertarik dengan sepakbola dan di kota inilah terdapat kantor UEFA. Tapi kan itu saja tidak cukup.
"Kenapa pergi?"
Saya cuma tersenyum.
Mendengarkan nya menggunakan bahasa Inggris, bahasa ketiga yang digunakan di kota ini, membuat saya senang, karena bagaimanapun aksen nya terdengar berbeda tapi unik. Enak didengar.
"Beban pekerjaan atau.....cinta?"
Dia sengaja membuat jeda yang panjang sebelum mengucapkan kata terakhir.
Saya mengedikkan bahu.
"Berarti cinta. Karena kamu bukan tipe orang yang tidak nyaman ada di rumah. Dan kamu juga sepertinya bukan pekerja kantoran."
Dia menebak dengan benar. Mungkin karena banyak memperhatikan para penghuni sementara hostel yang terus berganti setiap saat di tempat ini jadi dia tahu sekali karakter tiap pelancong.
"Dikecewakan?"
Mau tidak mau saya mengangguk.
Tapi setelah itu dia tidak melanjutkan bertanya.
"Cinta bisa merubah segalanya tapi kamu tidak boleh berubah menjadi orang lain karena nya."
Kalimat yang ada benarnya. Karena saya merasa saya berubah menjadi orang lain sewaktu saya bersama 'dia'.
Obrolan kami sempat terhenti karena ada penghuni yang meminta tambahan selimut. Sempat juga karena Tante Stephan yang adalah kepala koki di hostel ini minta dibantu mengambilkan sesuatu di gudang bawah. Anggur tepatnya.
Hostel ini bisnis keluarga, awalnya bisnis kakak-beradik Licht, tapi Martina Licht, ibu Stephan, meninggal beberapa tahun yang lalu, jadilah Stephan yang dipercaya melanjutkan.

Ini malam keempat saya di sini dan malam ketiga dia menemani saya.
Topik utama nya Paleo Festival.
Sounds fun.
Sendiri di festival musik. Duduk memperhatikan orang-orang dan atau menikmati siapapun yang sedang tampil sambil duduk di atas rumput dan memejamkan mata.
Baiklah. Paleo festival adalah keseruan selanjutnya!

Jumat, 01 Mei 2015

Mahesa Gina - Bab 5



Seminggu setelah itu, sepasang suami-istri datang ke rumah ku pada malam hari. Mereka mengembalikan dompet beserta isi nya. Aku bersyukur karena masih banyak orang baik di Jakarta. Semua masih ada di sana, termasuk uang ku. Mereka menolak sewaktu aku ingin memberikan uang itu, karena hati ku sudah mengikhlaskan uang itu. Tidak sempat berkenalan mereka langsung pamit karena hari sudah malam.
Aku masuk kamar setelah mereka pergi dan memfoto dompet dan isi nya lalu aku kirim via bbm chat ke Arga.
"Gak usah khawatir lagi, dompet nya udah balik."
Tidak lama kemudian dia balas chat ku.
"Alhamdulillah. Kok bisa?"
Lalu semalaman aku cerita tentang pasangan yang menemukan dan mengembalikan dompet ku itu. Aku ingat kalimat terakhir Arga waktu itu.
"Kamu jangan ceroboh lagi."
Membaca kalimat itu aku seperti bisa melihat nya tersenyum.
Arga jarang tersenyum tapi kalau sudah tersenyum, seorang Mahesa Gina langsung menyerah.
Karena jarang tersenyum itulah semua orang yang gak kenal sama dia akan bilang kalau dia itu pendiam dan penyendiri. Itu yang gak kenal sama Arga ya, aslinya sih anak nya bodor dan suka unpredictably hilarious. Kadang suka joget-joget di depan ku, atau sering nya sih kentut. Yep, dia sama sekali gak jaim di depan aku. Melakukan apa saja dan berdiskusi apa saja. APA SAJA.
Rasa nyaman nya sampai sejauh itu.

                                                                               • • •

Ibu membangunkan ku.
"Kamu kata nya mau makan. Kok malah ketiduran sampe sore gini di sofa?"
Pelan-pelan kesadaran ku kembali.
"Hmmmhh..iya, bu. Capek."
"Ya udah mandi, ibu bikinin nasi goreng ya."
Nasi goreng.
Gue mengangguk. Ibu pergi ke dapur.
Makanan favorit Arga itu pisang, sama nasi goreng. Dua itu gak akan pernah bikin dia bosan. Pisang 1 sisir juga akan dia abisin sendiri, makan siang sama makan malam nya nasi goreng juga dia gak keberatan.
Aku yang tidak begitu konsisten kalau dalam hal masak, pernah dua kali bikinin dia nasi goreng.
Dimakan habis sih, walau dengan masukan ini itu.
Pas pertama kali masak.
"Enak kalau ada irisan kol seger nih, yang. Kecap nya lagi. Kalau tambah ayam enak lagi nih, yang. "
Aku yang masak tapi dia gak tahan juga untuk ikutan.
Kedua kali nya.
" Harus nya kasih garem nya nanti aja pas nasi nya udah mau mateng jangan pas ngulek bumbu, yang. Cepetan aku udah laper banget sampe kepala ku pusing nih, yang. "
Setelah itu diabisin aja itu nasi goreng, aku dibagi nasi goreng nya juga enggak.
Nasi goreng buatan ibu itu enak nya luar biasa, dulu waktu masih sekolah hampir tiap hari aku sarapan nasi goreng.
" Udah ashar kan, nduk? "
Aku mengangguk. Dulu, Arga yang selalu mengingatkan aku untuk tidak lupa solat. Anak jebolan pesantren yang satu itu. Aku tersenyum mengingat pertama kali nya kami solat berjamaah, di rumah seorang teman. Pertama kali nya aku mencium tangan seorang laki-laki selain keluarga ku.
Dan mengingat kalimat indah yang pernah dia kirim via bbm chat..
" Kelak, aku ingin kita dekat.
Saat selembar sajadah dihamparkan, kau berdiri merapat sejengkal ke belakang di sebelah kanan ku. "
Aku cuma bisa meng-amin-kan doa itu. Berjamaah sekali saja terasa indah, apalagi selamanya?
Kalimat yang selalu dia ulang-ulang, lisan maupun tulisan, disampaikan kepada ku cuma satu,
"Aku gak ingin jauh dari kamu."
Dada ku sesak kalau ingat kalimat itu dan kenyataan nya sekarang.
Arga memilih pergi dan menutup semua akses komunikasi dari ku.
Aku benci sekali ketidakpastian dari kalimat yang terakhir kali dia ucapkan waktu itu,
"Kalau kita berjodoh, kita akan ketemu lagi Gina. Jodoh gak akan tertukar."
Aku tahu itu. Tahu sekali. Aku menghormati keputusan nya untuk mapan dulu sebelum memutuskan menikah, aku paham hal itu.
Gagasan ku untuk tetap menjalin hubungan sampai dia siap ditolaknya.
"Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku. Yang lebih mapan dan siap menikah."
Dia lebih suka melihat ku menikah dengan orang lain dalam waktu dekat daripada menunggu nya mapan.
Dia lebih suka melihat ku menemukan laki-laki lain dan pura-pura jatuh cinta dan pura-pura bahagia sementara kebahagiaan ku ada pada nya.
Aku menjadi versi terbaik diri ku saat bersama Arga, aku menyadari hal itu, sahabat dan orang-orang di sekitar ku menyadari hal itu, tapi dia tidak menyadari nya. Ironi.