Rabu, 25 Maret 2015

Mahesa Gina - Bab 2



Tepat waktu, Hilman menjemput aku dari kantor sebuah majalah sesuai jam kami janjian, jam 5 sore. Cowok itu masih memakai kemeja kerja nya yang berwarna biru, jeans hitam dan sebuah jaket berwarna sama.
Aku baru saja menjalani sesi wawancara dan foto yang menyenangkan di sini.
"Hai. Cantik banget lu malam ini."
kata nya memuji.
"Cuma make-up plus hair do." kata ku jujur.
I'm not pretty, gak pernah berani berpikir kalau aku ini cantik malahan.
"Gak keberatan kan kalau naik motor?"
"Gak sama sekali."
Untung hari ini aku pake celana jeans, bukan rok.
Sudah lama gak naik motor sama selain tukang ojek, terakhir itu sama...sama siapa ya?
Oh. Sama mantan pacar yang itu.
Kami menuju parkiran motor di basement sambil mengobrol ringan. Motor Hilman jenis motor bebek dan warna nya kombinasi hitam-biru. Dia sudah menyiapkan helm untuk ku. Memutuskan gak pergi terlalu jauh dari gedung tempat majalah itu berada, tau sendiri kan jalanan Jakarta jam segini? 
Kami pun ngopi di salah satu kedai kopi ternama di dalam mall di bilangan Senayan.
Tanpa disangka obrolan kami mengalir begitu saja dan 2 jam sama sekali gak berasa.
"Mau makan?"
"Mau. Tapi gak mau di sini."
"Ikut gue."
"Kemana?"
"Gak keberatan makan di pinggir jalan kan?"
"Haha! Emang gue siapa? Gak keberatan lah."
"Yuk."
Hilman beranjak dari tempat nya duduk dan aku pun mengikuti dia.
Kembali menelusuri jalanan malam kota Jakarta yang kali ini sedikit lengang. Sesekali mengobrol dan merasakan kalau Hilman ternyata memiliki selera humor yang bagus.
Sedikit kaget begitu tersadar kalau kami berbelok ke tempat ini.
Panik menyerang. Udara yang terasa sejuk seperti nya tidak berpengaruh buat ku, butiran keringat mulai muncul di dahi.
Masa mau ke sini?
Tiba-tiba tremor dan benar saja, Hilman membelokkan motor nya ke kiri, memasuki sebuah taman kuliner di depan sebuah taman makam pahlawan di daerah Kalibata.
"Lu ga turun?"
"Eh..iya.."
Aku tergagap menyadari kalau ternyata Hilman sudah turun dari motor nya. Mahesa bodoh.
"Lu kenapa?" kata nya khawatir.
"Oh, gak papa. Hehe.."
"Gak suka? Mau cari tempat lain?"
"Oh..gak papa. Di sini aja."
Aku pun turun dari motor. Dada ini sesak begitu kami jalan ke arah barisan tenda makanan. Setiap langkah seperti mengulang kejadian dulu.
Sebelah kanan ada tenda pisang bakar yang gak begitu aku rekomendasikan, pisang yang disajikan blom terlalu mateng soalnya. Waktu itu kami coba makan di situ karena pisang bakar langganan kami tutup. Aku ingat malam itu aku tantang dia bikin puisi, dan akhirnya dia menunjukan tulisan di notepad bb nya,
"Aku mencintai mu, Mahesa Gina."
Singkat.
" Buat apa panjang-panjang kalau ini aja udah bikin kamu tersenyum." kata nya waktu itu menjawab pertanyaan ku kenapa puisi nya pendek sekali.
Dan malam ini aku tersenyum lagi mengingat hal itu.
"Gina?"
"Eh, iya kenapa?"
"Lu kenapa sih?"
"Emang gue kenapa?" kata ku berlagak bodoh.
"Haha! Lu ini. Dari pas kita jalan melewati tenda pertama, gue kan nanya mulu. Mau makan apa?"
"Eh, sorry. Uummm..ga begitu laper sih, tapi pisang bakar aja yuk?!"
"Eh, pisang? Uuumm.."
"Kenapa? Ga suka?"
"Gak begitu."
"Ya udah makan sate aja di sebelah nya, tapi kita tetep makan di tenda pisang bakar ya?! Tuh di sebelah situ."
"Your wish is my command, Gina."
Penjual nya masih sama, pasangan muda, suami istri asal Bandung yang punya seorang anak perempuan kecil cantik. Tapi hari ini dia sepertinya gak ikut ayah-ibu nya jualan. Padahal aku penasaran juga sudah sebesar apa dia sekarang.
Dari 5 kelompok meja yang disediakan, cuma 2 yang diisi pelanggan, aku dan Hilman memilih duduk di dekat etalase. Kalau dulu, aku dan dia sering nya duduk di meja paling kanan, dekat pintu masuk ke tenda ini. Aku memandangi 'meja kami' itu dengan hati miris, lalu merasakan lubang tak terlihat di dada ku. Sesak. Mungkin aku harus memalingkan muka ke arah lain.
Well, harus nya sih aku pergi saja dari sini.
Teteh yang jualan sepertinya familiar dengan muka ku. Tapi mungkin kah masih ingat? Sudah 4 tahun berlalu, pastinya pelanggan nya pun bukan aku saja.
Hilman memesan sate kambing dari penjual sebelah. Aku memesan pisang bakar plus keju dan teh tarik dingin.
"Suka pisang bakar?"
Aku mengangguk.
"Mau sate nya?" kata Hilman lagi.
Aku menggeleng.
Sebenernya gak begitu suka sama pisang bakar, yang jadi raja monyet mah si Ar..
"Gin?"
"Eh, kenapa Ga?"
Aduh salah manggil.

Sabtu, 21 Maret 2015

21st March 2015

Jadi kemaren itu dari sore udah bbm-an sama akang ganteng yang itu..
Rencana nya mau makan bareng karena klinik sore nya libur, drg nya pergi ke luar kota, udah janjian plus ngambek dikit gara2 dia mau nya abis makan langsung beli kue. Mau ngerayain ultah gue sederhana aja. Gue nya bilang gak usah beli kue, cos yang gue mau cuma satu sih, menghabiskan waktu sama dia. Gak, gue gak bilang segamblang itu ke dia kok. :p Setelah kurang lebih 10 hari gak jalan berdua, cuma itu sih yang gue mau.
Dari sore kan udah hujan, walau akhirnya berenti, tapi tiba-tiba jam setengah 7 malem si akang ganteng bbm, bilang di rumah nya hujan deres.
Gue keluar kamar dan langsung hopeless begitu liat langit agak kemerahan, mendung bro.
Ya udah akhirnya bilang..
"Gak jadi aja lah."
"Kok gitu? Jadilah."
Awalnya sih dia tetep keukeuh janjian tapi begitu gue bilang di rumah mulai hujan, petir, angin, badai, barulah dia bilang..
"Kalo ga jadi gpp kan?"
"Iya gpp."
Langsung bete, sedih, haduh..mau beduaan aja susah bener.
Ngapus make up, meluk guling, dengerin The Script lalu nangis.
Matiin bb. Tidur.
Jam 10 kebangun dan mendapati celana jeans gue tiba-tiba ada di atas badan, walau baru banget kebangun tapi gue masih inget kalo ni celana ga gue taroh di deket gue. but what the hell, lanjut tidur.
Gak lama kebangun lagi gara-gara kaya nya ada yang naik tangga menuju kamar dan pas gue nengok..
"Astagfirullah."
Si akang ganteng udah di sana..
And the rest is history..
Thanks for all the birthday wishes. Dari hati yang paling dalam cuma bisa meng-amin-kan dan berterimakasih.
Loved the Juventus jacket, chocolate and the letter, akang ganteng.
Thanks sudah mau datang ke rumah sambil hujan-hujanan, gak pake jas ujan pula. I love you to the moon and back. I know these times are hard, they're making us crazy but don't give up on us, baby.
Besok aku traktir! :*

Rabu, 18 Maret 2015

Mahesa Gina - Bab 1




Apa jadi nya kalau waktu itu aku mendengarkan kamu lebih awal?

Nostalgia merebak begitu aku memasuki gedung ini. Bertingkat 10 dan 3 tingkat awal dijadikan sebuah toko buku besar.
Dulu, waktu pertama kali novel ku diterbitkan, tempat ini menjadi saksi mata di mana cuma 3 orang saja yang duduk di kursi yang disediakan panitia untuk semacam acara promosi nya. Mereka terdiri dari 1 sahabat ku, 1 editor ku dan 1 orang yang mungkin hanya terpaksa duduk di situ. Orang terakhir terus saja menunduk sambil membaca pesan yang ada di smartphone nya. Sejak tadi dia sibuk menengok ke kanan ke kiri, seperti sedang menunggu seseorang datang.
Karyawan toko ini masih sama ramah nya. Toko buku ini masih sama bau nya. Perasaan ini masih sama berdebar nya.
Naik ke lantai 2 dan mencari perempuan galak yang selalu meneror ku dari dulu.
"Kak Nila!"
Aku memeluk wanita yang tinggi nya hanya beda 2cm dari ku itu.
"Kangen nya gue sama elu. Terus gimana Bromo? Cukup bikin lu relaks kan sebelum menjalani agenda promosi kali ini?" kata nya ceriwis.
"Cukup...kalo setelah ini selesai gue boleh kabur lagi ke sana sebulan. Haha.."
Langsung tangan nya sibuk mencubit pipi kiri ku.
"Asal balik dari sana lu ngasih gue 3 buku yang siap edit aja."
"Wah, penyiksaaan. Gue ke sana kan mau refreshing. Enak aja disuruh kerja."
"Tolong ya tuan putri Mahesa Gina...capek gue diberondong pertanyaan fans lu yang terus2an nanya kelanjutan Inferno di twitter."
"Haha..rasakan."
Aku tertawa cekikikan dan langsung menutup mulut begitu ingat kami ada di mana.
"Besok-besok gue minta kenaikan gaji kalau gini cara nya. Editor, PR, teman, sahabat, kakak, admin akun lu, tempat sampah.."
Makin keras lah ketawa ku.
"Monyet lu. Seneng banget kaya nya. Iya, gue emang tempat sampah lu kan?"
"Elitan dikit kenapa bahasa nya. Tempat curhat. Tempat menumpahkan segala keluh kesah."
"Preeeettt.. Sekali tempat sampah tetap tempat sampah. Hidup tempat sampah."
"Hahaha.. Aduh kakak ku yang satu ini. Besok gue bilang deh ke akang Armand yang keren banget itu supaya gaji lu dinaikin."
Aku mencium pipi nya. Gemes.
"Gue sih gak perlu dinaikin gaji nya kalo sama dia, cukup dia naikin gue aja.." kata nya di telinga ku.
Orang gila.
Kami berdua cekikikan sampai-sampai semua pengunjung dan karyawan toko itu memperhatikan kami.
Menemui salah seorang manager toko ini yang memang selalu ambil bagian kalau aku lagi promosi buku baru.
Hilman nama nya. Tinggi, kurus, tipikal eksekutif muda tapi entah kenapa malah kerja di toko buku.
"Makanya tanya. Elu diajak keluar sama dia nolak terus, giliran penasaran nanya nya sama gue."
Itu omongan Nila yang ke-seribu-delapan-ratus-empat-puluh-lima kali nya selama kami kenal 3 tahun belakangan ini.
Nila yang semangat banget jadi mak comblang ala-ala antara aku dan siapa pun cowok yang keliatan nya menaruh minat sama penulis buku yang kaya nya merana banget karena gak punya pacar 4 tahun belakangan ini.
Itu bahasa nya dia ya..
Aku sih santai gak punya pacar..
Kadang..
Hehe..
Di titik ini sudah merasa terlalu capek untuk memulai semua dari awal lagi. Bertemu orang baru, mengeksplorasi perasaan sendiri, entahlah, sepertinya sudah malas memulai sebuah hubungan percintaan.
"Ngibul. Mana ada perempuan yang gak perlu diperhatiin? Disayang? Emang lu apa? Frigid? Oh iya baru inget, nama nya gak bisa move on."
Wajah itu muncul di kepala ku.
Nila selalu bisa menebak dengan benar. Kesimpulan yang terakhir ya, bukan frigid nya.
Gaya bicara nya yang ceplas-ceplos udah gak bikin aku kaget lagi, dulu pas pertama kenal? Tiap abis ketemu dia aku pasti nangis.
"Monyet lu. Iya deh yang selalu punya orang buat dibelai-belai...minimal."
"Hahaha..dodol."
Dodol. 'Dia' dulu selalu manggil aku dengan kata itu.
Hush udah ah.
Fokus, Mahesa!
Novel ke-8 ku ini cerita nya terlalu sedih kalau dibandingkan dengan 7 novel terdahulu. Judul nya Mati Hati. Hilman ada di sana sampai pertanyaan terakhir dijawab dan sesi pemberian tandatangan selesai. Selalu begitu setiap aku ada acara di sini.
"Makasih ya atas bantuan nya."
Aku menjabat tangan nya setelah kerumunan terakhir membubarkan diri.
"Sama-sama. Abis ini mau ke mana, Gina?"
"Kenapa?"
"Ngopi dulu yuk."
Nila nyikut perut ku. Mukanya jahil.
"Makasih, tapi udah ada janji sama orang dari PH."
"Oh, buku ketiga nya ya mau dibikin film ya?"
"Iya Insha Allah."
"Orang PH yang ma.."
"Duluan ya, man."
Aku membekap mulut Nila dan menarik dia dari sana.
Iya itu tadi bohong.
Lalu Nila mengantar ku sampai depan rumah dengan mobil sedan nya. Dia daritadi cerewet banget ceramahin aku tentang Hilman. Sampai akhirnya 1 meter di deket rumah dia bilang.
"Sorry ya, gue ngasih nomer telpon lu sama dia tadi."
Kampret ni anak!
Dan begitu sampai kamar langsung deh, ada panggilan dari nomer yang gak dikenal.
Males ngangkat tapi gimana.
"Sore, Gina."
Hilman.
"Sore. Ini siapa ya?"
"Hilman. Maaf ya, tadi gue minta nomer lu dari Nila."
"Oh, Hilman. Kenapa, Man?"
"Eh, gue ganggu ya? Ketemuan sama orang PH nya udahan?"
"Oh, iya. Kenapa?"
"Malem ini ada acara gak?"
"Uuummm.."
Untung nya ada.
"Sibuk ya, Gin?"
"Iya. Mau ada tamu."
"Oh gitu. Siapa?"
"Saudara."
Please jangan tanya saudara yang mana. One lie leads to another.
"Oh ya udah kalau begitu."
"Iya. Maaf ya."
"Gak papa kok. Mungkin lain kali."
Ada nada pengharapan di suara nya Hilman. Bikin gak tega.
Coba sekali aja gak ada salah nya kan, Mahesa? Toh cuma keluar, makan, ngobrol.
Jatuh cinta?
Tidak.
"Gimana kalau besok aja?" kata gue tiba-tiba.
"Eh, serius?"
"Iya."
"Mau di mana?"
Akhirnya janjian juga ngopi sama Hilman. Pertama kali nya sejak putus 4 tahun lalu sama seorang cowok.

Sabtu, 17 Januari 2015

Teh Tarik - Chapter 15

Hari minggu. Masih rame aja taman monas. Daritadi jalan kaki muter-muter nyari tempat yang agak sepi biar enak ngobrol nya. Setelah merasa capek, entah memang harus diomongin saat ini juga atau apa, gue melihat spot sepi. Tangan Ardi daritadi gak lepas dari tangan gue. Dia ngoceh mulu.
Duduk di atas rumput yang memang boleh didudukin karena gak terlalu banyak.
"Jadi, kamu mau ngomongin apa?" kata nya.
Okay. Here we go.
"Kamu beneran sayang sama aku?" kata gue setelah menghela nafas panjang.
"Iya, aku sayang sama kamu teh manis." caranya dia manggil gue ngegemesin banget! Hah..godaan.
"Aku juga sayang sama kamu susu. Tapi kita beda." gue memberanikan diri menatap mata nya.
"Apa? Agama?" kata nya langsung.
"Iya. Apa mungkin bisa kalo iman kita beda?"
"Oma sama opa bisa kok walau beda."
Pernyataan nya itu bikin gue kaget.
"Maksud kamu?"
"Oma kan muslim, dee."
"Beneran?"
"Iya. Kalo kita datang dari pagi juga pasti kamu liat sendiri oma gak ikut ibadah."
"Oh gitu. Tapi aku sama oma itu beda, Ardi. Agama itu hal prinsip. "
"Iya aku tau. Aku ngerti."
"Would you listen until I am finished?"
"Oooppss..okay. I will."
Gue megang tangan nya. Di tempat temaram seperti ini gue bisa lihat mata nya penasaran, minta penjelasan lebih lanjut.
"Kamu, Minardi Genta Soehardiyanto..aku sayang sama kamu..tanpa rencana dan aku dua kali melanggar pengecualian aku. Aku ga mau terlibat lebih jauh dengan cowok oriental dengan alasan yang aku sendiri gak ngerti, that's first, kedua, aku gak pernah ngebiarin diri aku naksir lebih jauh sama cowok yang beda agama. It's bothering me dan itu hal yang paling berat aku langgar. I've crossed my own boundaries. You are my only exception."
"I love you, dee. "
Those 3 words bikin gue terpana. Sejauh itu? Aduh, gimana ini?
Lalu dia nyium bibir gue.
Dan salah nya gue bales.
Tapi gue langsung sadar dan lepasin bibir gue dari bibir nya.
Dugaan gue bener, makin hari gue akan makin cinta sama cowok ini.
"Ardi, dengerin aku sampe selese bisa?"
"Oke, maaf."
Dia mengangkat kedua tangan nya seperti seorang penjahat yang sudah menyerah.
"Aku bisa liat kita berdua barengan terus. I will love you more and more each day. Tapi...aku gak bisa. Agama itu adalah hal yang terlalu prinsip buat aku. My mom will hate me dan aku gak mau durhaka sama orang tua aku."
"Kalo aku jadi muallaf?"
"Jangan pindah agama karena cinta sama manusia nya, tapi karena cinta sama Tuhan nya."
Kalimat itu cukup mengena, Ardi terdiam.
"Aku tau klo pacaran kita bisa putus. Tapi aku sama sekali gak mau ambil resiko akan jatuh cinta lebih dalam sama kamu, lalu buta dan gak mikirin orang tua aku. Your parent might hate me kalo seandainya kamu jadi muallaf. Aku gak mau bikin kamu jadi anak durhaka."
"Kenapa kamu gak mau mencoba? Sebulan lagi mungkin?"
"Apa beda nya sekarang dan sebulan lagi? Enggak mau. Trust me, selama ini aku udah nyoba, di. Sejak kamu bantu aku di kost-an Nino."
"Trus sekarang mau kamu gimana?"
"I'll let you go. Sebentar lagi juga masa koas kamu di rumah sakit selesa kan? Jalanin dengan tenang, fokus dan selesaikan semua. Be a great doctor. Terus ambil spesialisasi yang kamu mau. Jangan cari aku. I'm not included in your future."
"You don't love me."
"I do love you. Trust me."
"Then stay. Stay with me."
"Aku tau kamu akan lupa sama aku bulan depan kalo udah pindah rumah sakit."
"Kalo enggak? Gak ada obat buat patah hati, dee."
"Kata siapa? Akan ada obat nya, akan ada orang lain."
"Aku gak mau."
"Gak mau tapi pasti bisa. Berdoa saja semoga Allah buka jalan buat kita."
Ardi kaya lagi mikir untuk ngebantah argumentasi gue, tapi bingung mau ngomong apa. Gak punya kata-kata lagi untuk memperbaiki ini semua. Alasan mendasar yang sangat mendasar yang kadang dilupain sama pasangan zaman sekarang.
"Jangan pernah ragu akan satu hal. I love you. I am and will always be. Terima kasih atas semua nya."
Gue peluk Ardi yang seperti mematung, air mata gue jatuh. Dan lalu mulai terisak. Dia meluk gue balik.
Di kepala gue mengalun sebuah lagu.
"I know we can't be together cos something we both know. I'll try to forget for anything that we had ever done."
Somewhere Someone nya Backalley.
Lalu gue berbisik di telinga nya.
"Aku, sedetik pun, gak pernah berpikirn untuk pergi, tapi aku harus."
Melepaskan pelukan kami dan gue menatap dia, mencium rahang dia yang kiri dekat bekas jahitan itu..bagian wajah nya yang pertama kali gue cium dulu.
"Jangan kejar aku. I love you, Minardi Genta Soehardiyanto."
Gue berdiri dan tergesa pergi dari sana. Langit terasa lebih gelap. Udara terasa lebih sesak. Hati dan pikiran sudah tidak sejalan.
Berjalan cepat ke stasiun gambir yang letak nya gak jauh dari sana. Hapus air mata lu, dee.
Di stasiun ternyata sepupu gue gak sendiri. Nyokap juga ikut. Gue bilang sama nyokap klo Ardi nanya bilang aja gak tau. Hp akan gue matiin setelah ini, dan gue janji akan nelpon nyokap begitu sampe. Semua keperluan gue udah dibawain mereka di tas ransel besar.
Nyokap keliatan sedih, tapi beliau tau gue melakukan hal yang benar. Memeluk beliau erat sekali sebelum naik ke gerbong. Berterimakasih sama sepupu gue karena mau repot-repot mencarikan tiket kereta api secara tiba-tiba dan mepet gini.
Pamit dengan berurai air mata lalu mencari tempat duduk di atas gerbong.
Kereta Argo Lawu ini akan membawa gue ke Solo dan gue akan melanjutkan perjalanan ke Magetan dengan bus travel. Desa di kaki gunung lawu itu tempat gue menghabiskan masa kecil dulu.
Ardi sms. Gue memutuskan untuk membaca dulu sebelum nanti akhirnya hp ini gue matikan.
2 paragraf pertama dari lagu Best Regret nya Backalley.
"So you're standing still. My lungs can't feel, you've said to me there's nothing left to save. You left me here then disappear. Without a word to make me understand. You know I can't move on without you near. Feels like the world stop turn. Please don't give up on me. I can not leave without you.
There's not a word for me to say..to make you stay and here's my best regret for the best thing that I've ever get. I love you, dee. I am and will always be."
Gak gue bales. Semua yang mau gue utarakan, udah gue omongin ke dia tadi.
Switching off the cell phone.
Kereta mulai meninggalkan Jakarta. Gue nengok ke arah jendela dan mulai menangis.
I love you to letting go.

Sabtu, 03 Januari 2015

Teh Tarik Chapter - 14

Gue yang daritadi kebelet buang air kecil, pamit dulu ke toilet. Dianter Ardi sampe depan toilet. Agak berlebihan nih anak emang.
Baru sadar klo Odiee sms, nanyain gue ada di mana. Dia mau cerita sesuatu. Gue bales dan bilang posisi gue, eh, malah diledekin dan akhirnya dia nunda cerita.
Makan malam yang penuh sama cerita nostalgia oma dan opa. Opa nya Ardi itu ganteng sekali. Keturunan korea-jepang tapi lebih banyak darah korea nya. Sangat mirip Ardi. Dulu beliau kerja di bank swasta tapi sekarang udah pensiun. Jadi WNI sejak umur 25 tahun dan sekarang kerjaan nya ngulik saham dari rumah. Mereka sudah lama menikah dan cuma punya satu anak, ibu nya Ardi. Karena ortu nya Ardi sibuk sama bisnis mereka di Surabaya, Ardi pun diaasuh oma nya dari kecil.
Makan malam selesai dan opa pamit istirahat. Beliau hari ini hampir seharian berkebun jadi agak ngerasa capek. Sedangkan gue, oma dan mbak Narti sibuk lagi di dapur. Rasa bulgogi yang tadi dihidangkan di meja bener-bener masih berasa enak nya di lidah
Kami bertiga sibuk bikin tahu-tempe bacem, buat bumbu ayam bakar plus ngupas telur yang baru selesai direbus. Telur pindang dan bikin kuah opor buat tambahan gudeg nya.
Setelah semua selesai gue baru sadar klo Ardi gak keliatan daritadi. Tiba-tiba ngerasa ga nyaman karena penghubung gue ke keluarga ini gak ada. Mbak Narti sama oma sih menyenangkan tapi klo Ardi gak ada rasanya kurang.
"Kamu nyari Ardi?" kata oma ngagetin gue.
"Iya, oma. Dia kemana ya?"
"Tadi kata nya ada perlu mau keluar sebentar. Kamu udah mau pulang, dee? Gak mau nginep aja? Udah jam 12 loh ini.."
"Iya, oma. Gak papa pulang telat, tadi udah bilang sama ibu, klo nginep malah gak boleh."
"Ohh...ya udah. Nanti klo Ardi balik, biar dia yang anter kamu pulang ya?"
Gue mengangguk. Semua udah beres, tinggal ngasih instruksi ke mbak Narti buat besok. Warna gudeg nya cokelat kemerahan yang cantik, besok tinggal dikasih santan.
Gak lama Ardi nongol, mulai cerewet nyuruh oma nya istirahat lalu setelah oma nya bilang iya pak dokter berulang-ulang, dia pun pamit.
"Besok kalo mau dateng aja, dee. Gak usah pas kebaktian nya, atau gak papa dateng pas kebaktian, kamu bisa ngadem di halaman belakang." kata oma tadi.
Gue sih cuma tersenyum, Ardi bilang arisan tapi oma nya bilang ibadah, atau memang dua-duanya?
Di mobil udah kaya setengah sadar, ngantuk nya sama sekali gak bisa ditahan.
"Udah kamu tidur aja.."
"Hmmmm.."
Mata gue udah terpejam. Ardi nyalain radio Oz dengan volume yang gak terlalu kenceng. Kursi gue sempet dikebelakangin sama dia, jadi gue bisa bersandar dengan nyaman.
"Maaf ya gak bisa nemenin kamu."
"Udah,tidur aja sayang.."
Gue sadar kalo gue udah masuk alam mimpi pas denger Ardi manggil gue 'sayang'.
Gue terbangun dari tidur yang di rasa singkat itu sambil memperhatikan kondisi di luar. Udah masuk jalan ke rumah sakit aja ini.
"I slept like a pig." kata gue ke Ardi dengan suara sedikit parau.
He's smiling.
"No,you slept like a princess."
"Yeah rite." kata gue sinis.
Gue ambil minum di tas, menghabiskan sebotol air mineral itu berdua.
"Ke rumah Nino aja dulu. Nanti abis itu aku anter sampe rumah."
"Gak usah,aku turun sini aja. Kamu capek kan?Istirahat aja sana.Besok kan kita ke Serpong lagi."
Berhenti di depan gang rumah.
"Dee,besok beneran ikut lagi?" kata Ardi sambil nahan tangan gue.
"Insha Allah.Thanks ya,di.Nite."
Gue tersenyum lalu keluar dari mobil.

Teh Tarik Chapter - 13

Turun dari mobil dan gue terpaku. Rumah oma nya Ardi terlihat sangat nyaman, halaman nya luas. Rumah ini bertingkat dua namun terlihat sangat sederhana, gak berlebihan. Ardi tiba-tiba udah berdiri di sebelah gue. Klo dari obrolan via telpon sih oma nya Ardi terdengar ramah, tapi siapa yang tau?
Tangan Ardi menggenggam tangan gue, mata gue memandangi jalinan tangan kami lalu arah pandangan gue makin lama makin naik, dan akhirnya menatap dia yang terrsenyum lembut. Dia mencondongkan badan nya dan berbisik di telinga gue..
"No need to be worry. Kan ada aku." lalu dia nyium pipi gue.
Seperti dihipnotis, gue cuma bisa ngangguk. Setuju.
Sedikit menarik tangan gue, dia mengajak gue ke dalam. Baru masuk udah tercium bau masakan dengan dominasi bumbu ketumbar,lengkuas dan daun salam. Sangat Indonesia.
Gue seneng liat cara tangan kami terjalin. Terlihat pas. Kecuali warna kulit kami yang agak kontras. Hehe..
"Omaaaa..." Ardi manggil oma nya dengan nada kerinduan, seperti anak yang kangen sama ibu kandung nya.
Blom ada jawaban dan dia narik tangan gue ke bagian lebih dalam rumah itu. Rumah nya luas ke belakang, rapih dan gak terlalu banyak perabotan.
Ternyata oma nya ada di halaman belakang. Dapur nya di bagian belakang rumah dan karena hari ini masak besar jadi nya agak dilebarin lagi makanya ngambil halaman belakang sedikit. Sudah ada panci besar nangkring di atas kompor. Oma sendiri sepertinya lagi ngebersihin kacang tolo, salah satu bahan yang dipakai buat bikin sambel goreng krecek nya.
"Oma sayang.."
Ardi nyium tangan oma nya lalu nyium kedua pipi wanita cantik itu..terakhir dipeluk. Sangat sayang keliatan nya.
Gue kira oma nya berwajah oriental, tapi ternyata malah seperti wanita jawa keturunan keraton solo. Ayu dan anggun sekali, plus awet muda.
"Kamu ya, sombong banget baru pulang lagi. Mentang-mentang oma udah tambah keriput, udah ga pernah ditemenin."
"Oma perempuan paling cantik,apa nya yg keriput? Sibuk, oma? Tekanan darah gimana? Jantung normal? Ada keluhan?" Ardi megang pergelangan tangan oma nya sambil ngeliat jam di tangan nya.
Maklum aja ya, dokter, jadi concern bener sama kesehatan, apalagi ini oma nya. Dia pernah bilang klo memang merawat oma lah tujuan dia jadi dokter.
"Daripada meriksa oma yang baik-baik aja, mending kamu kenalin oma sama dee."
Gue tersenyum, Ardi sepertinya lupa kalo dia dateng sama gue. Memperkenalkan diri sambil nyium tangan oma, kebiasaan gue kalo berhadapan sama siapa pun orang yang lebih tua.
Setelah itu Ardi dicuekin sama oma nya yang sibuk menjelaskan ke gue apa aja yang sudah beliau lakukan pada isi panci besar itu. Mbak Narti, perempuan yang membantu oma di rumah ini lagi ambil kerupuk kulit yang sudah dipesan sejak tadi sore. Gue melihat jam di telpon seluler gue, jam 8 malam.
"Eh,kalian makan dulu yuk! Maaf ya, oma sampai lupa."